2016年10月1日土曜日

"Kebahagiaan Sejati" Relawan Gempa Bumi di Kumamoto, Jepang

“Kebahagiaan Sejati” Relawan Gempa Bumi di Kumamoto, Jepang

volJK1

Golden Week, berarti liburan dan berkumpul bersama keluarga. Itu pengertian umum di masyarakat Jepang. Memang saat inilah Golden Week berlangsung di Jepang. Liburan sekitar seminggu hingga 10 hari umumnya. Biasa dimulai akhir bulan April hingga 7-8 Mei, tergantung masing-masing instansi menentukan liburan. Banyak yang berlibur di dalam maupun di luar negeri. Tempat-tempat wisata umumnya penuh dan full antrian.
Ada satu berita yang menarik perhatian saya. Ternyata ada juga cara lain untuk menghabiskan liburan Golden Week. Cara yang tidak umum tetapi tergantung masing-masing individu. Sekadar mengingatkan, gempa bumi Kumamoto telah berlangsung lebih dari 2 minggu (per 14 April 2016). Ada banyak kerusakan bangunan, jalan, rumah dan juga korban jiwa yang tidak sedikit (49 orang).
earthquake-japan-1461230399
Akhir pekan lalu, kembali dibuka pendaftaran sebagai tenaga sukarelawan gempa bumi di Kumamoto. Luar biasa ! Pembukaan dilakukan pukul 9 pagi dan ternyata ada banyak masyarakat yang ingin berpartisipasi. Lebih dari 160 orang! Ada banyak warga Jepang di luar Kumamoto yang mendaftarkan diri untuk menjadi tenaga sukarelawan. Tak mudah memang menjadi seorang tenaga sukarelawan.
japan2
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya kesiapan membantu dan tidak merepotkan pihak tuan rumah, harus pandai membawa diri, tahu diri akan batas maksimal kemampuan, waspada terhadap segala kemungkinan karena masih ada gempa susulan dan masih banyak yang lain. Ingat selalu bahwa lokasi bencana ada banyak kemungkinan yang terjadi, jadi sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang lokasi yang dituju.
Menyimak berita ini, saya jadi teringat satu buah buku yang pernah saya baca baru-baru.  Buku ringan, banyak cerita pendek tetap bagus isinya untuk motivasi diri: “ 20 Wisdom & Success Andrie Wongso” karya Andrie Wongso, Motivator No. 1 di Indonesia. Dua kutipan pendek dari buku tersebut,
“Terus gunakan kesempatan, setiap saat dan setiap waktu, untuk berbuat baik. Setiap tetes kebaikan, akan mendatangkan kebaikan lainnya.”
“Asah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Dengan begitu kita telah menanam banyak buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kita pada kebahagiaan sejati.”
Luar biasa!  Pas sekali menggambarkan perbuatan para sukarelawan tersebut. Mengisi liburan Golden Week dengan membantu korban bencana alam adalah satu perbuatan mulia. Ini berarti para relawan telah menanam buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kebahagiaan sejati. Tidak setiap orang mampu melakukannya karena memang pekerjaan kotor dan kasar yang tak ada upahnya, misal membantu membersihkan reruntuhan rumah, mengangkat /membuang genting, membersihkan ruangan yang penuh longsoran lumpur, merapikan perkakas dapur, membuang sampah dan banyak lainnya. Pekerjaan yang membutuhkan fisik yang tahan banting.
Membantu sesama manusia dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mengasah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Hidup pun semakin berwarna, saling tolong menolong. Jadi jangan tunda-tunda lagi untuk berbuat kebaikan. Dan juga, jangan mengingat-ingat kebaikan yang sudah kita lakukan. Ikhlaskan semuanya!
Salam luar biasa,
Hani Yamashita - Jepang
(kontributor)
___________________________
Photo credits: Xinhua, Goabroad

“Kebahagiaan Sejati” Relawan Gempa Bumi di Kumamoto, Jepang

volJK1

Golden Week, berarti liburan dan berkumpul bersama keluarga. Itu pengertian umum di masyarakat Jepang. Memang saat inilah Golden Week berlangsung di Jepang. Liburan sekitar seminggu hingga 10 hari umumnya. Biasa dimulai akhir bulan April hingga 7-8 Mei, tergantung masing-masing instansi menentukan liburan. Banyak yang berlibur di dalam maupun di luar negeri. Tempat-tempat wisata umumnya penuh dan full antrian.
Ada satu berita yang menarik perhatian saya. Ternyata ada juga cara lain untuk menghabiskan liburan Golden Week. Cara yang tidak umum tetapi tergantung masing-masing individu. Sekadar mengingatkan, gempa bumi Kumamoto telah berlangsung lebih dari 2 minggu (per 14 April 2016). Ada banyak kerusakan bangunan, jalan, rumah dan juga korban jiwa yang tidak sedikit (49 orang).
earthquake-japan-1461230399
Akhir pekan lalu, kembali dibuka pendaftaran sebagai tenaga sukarelawan gempa bumi di Kumamoto. Luar biasa ! Pembukaan dilakukan pukul 9 pagi dan ternyata ada banyak masyarakat yang ingin berpartisipasi. Lebih dari 160 orang! Ada banyak warga Jepang di luar Kumamoto yang mendaftarkan diri untuk menjadi tenaga sukarelawan. Tak mudah memang menjadi seorang tenaga sukarelawan.
japan2
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya kesiapan membantu dan tidak merepotkan pihak tuan rumah, harus pandai membawa diri, tahu diri akan batas maksimal kemampuan, waspada terhadap segala kemungkinan karena masih ada gempa susulan dan masih banyak yang lain. Ingat selalu bahwa lokasi bencana ada banyak kemungkinan yang terjadi, jadi sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang lokasi yang dituju.
Menyimak berita ini, saya jadi teringat satu buah buku yang pernah saya baca baru-baru.  Buku ringan, banyak cerita pendek tetap bagus isinya untuk motivasi diri: “ 20 Wisdom & Success Andrie Wongso” karya Andrie Wongso, Motivator No. 1 di Indonesia. Dua kutipan pendek dari buku tersebut,
“Terus gunakan kesempatan, setiap saat dan setiap waktu, untuk berbuat baik. Setiap tetes kebaikan, akan mendatangkan kebaikan lainnya.”
“Asah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Dengan begitu kita telah menanam banyak buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kita pada kebahagiaan sejati.”
Luar biasa!  Pas sekali menggambarkan perbuatan para sukarelawan tersebut. Mengisi liburan Golden Week dengan membantu korban bencana alam adalah satu perbuatan mulia. Ini berarti para relawan telah menanam buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kebahagiaan sejati. Tidak setiap orang mampu melakukannya karena memang pekerjaan kotor dan kasar yang tak ada upahnya, misal membantu membersihkan reruntuhan rumah, mengangkat /membuang genting, membersihkan ruangan yang penuh longsoran lumpur, merapikan perkakas dapur, membuang sampah dan banyak lainnya. Pekerjaan yang membutuhkan fisik yang tahan banting.
Membantu sesama manusia dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mengasah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Hidup pun semakin berwarna, saling tolong menolong. Jadi jangan tunda-tunda lagi untuk berbuat kebaikan. Dan juga, jangan mengingat-ingat kebaikan yang sudah kita lakukan. Ikhlaskan semuanya!
Salam luar biasa,
Hani Yamashita - Jepang
(kontributor)
___________________________
Photo credits: Xinhua, Goabroad


Ps: Telah di muat di Andrie Wongso.com, 3 Mei 2016
http://www.andriewongso.com/kebahagiaan-sejati-relawan-gempa-bumi-di-kumamoto-jepang/

2016年3月8日火曜日

Pencarian Korban Hilang Setelah 5 Tahun Bencana Gempa dan Tsunami Jepang

5 tahun sudah bencana nasional gempa bumi dan tsunami di Jepang terjadi, tepatnya  pada tanggal 11 Maret 2011. Hari kelabu bagi bangsa Jepang. Bencana alam gempa bumi dan tsunami yang dahsyat, 9 skala richter. Menurut catatatan terakhir Februari 2016, korban jiwa 15. 894 orang dan korban hilang sebanyak 2558 orang. Jumlah korban hilang inilah yang selalu mengundang banyak tanda tanya  dalam pikiran saya. 

 " Bagaimana dengan korban hilang ? Apakah tetap dicari ? Dibiarkan termakan waktu ? Dibiarkan hilang begitu saja, toh sudah lewat 5 tahun juga. Tak akan ada yang menyalahkan apabila tak di cari juga. Keluarga korban pun tak akan bisa melakukan hal apapun juga, dan lain sebagainya. 5 tahun kejadian adalah waktu yang cukup lama." Ini sekedar pemikiran saya saja, pikiran orang awam. Akhirnya terjawab juga penasaran saya.

 Sebuah artikel yang "mencerahkan" pemikiran saya yang sudah terlanjur banyak prasangka negatif. Artikel per tanggal 7 Maret 2016, dari surat kabar " Sports Houchi" memuat tajuk berita mengenai pencarian korban hilang 3.11 setelah 5 tahun. ( sumber : Disini ) 

Pencarian korban hilang bencana alam gempa bumi 3.11  dari 3 perfektur ( Miyagi, Iwate dan Fukushima ) sebanyak 2558 orang tetap dilakukan walaupun telah 5 tahun berlalu. Pencarian dilakukan secara rutin oleh kapal Patroli Japan Coast Guard - wilayah Perfektur Miyagi  PL-06 dibawah kendali " Kurikoma".

 Menurut penuturan kepala pimpinan " Kurikoma", Terakado-san ( 46 tahun ). Jumlah petugas sebanyak 7 orang. Kegiatan pencarian korban hilang adalah kewajiban yang dilakukan. Pencarian rutin dilakukan sejak kejadian bencana hingga bulan Februari 2016,  terhitung telah dilakukan sebanyak 1253 kali . Ini hanya penghitungan pencarian di kedalaman lautan yang luas. Tak terhitung untuk pencarian di daratan. Pencarian korban hanya mampu dilakukan 40 meter kedalaman laut karena di atas 40 meter sudah sangat sulit dilakukan pencarian korban.  

Membaca hingga di alinea ke-3, terbersit rasa kagum. Memang sudah sepantasnya dilakukan pencarian korban hilang walaupun sudah lewat 5 tahun. Bagaimanapun keluarga korban pasti tetap ingin memperoleh kepastian walaupun hanya ditemukan jejak-jejak belaka, katakanlah yang terburuk hanya tersisa tulang belulang. Toh masih bisa dilakukan identifikasi jenazah.  

" Kami menyadari adalah sulit menemukan jejak korban hilang apalagi telah ada banyak perubahan lokasi sejak tahun kejadian 2011 hingga saat ini 2016. Hal yang mustahil, tetapi ternyata tahun 2014, kami berhasil menemukan 1 korban hilang yang telah meninggal dunia", tutur Terakado-san.

 " Saat berita penemuan korban hilang diumumkan, pihak keluarga datang sembari membawa foto korban. Berulang kali mengucapkan terimakasih dan jelas terpancar rasa kesedihan sekaligus perasaan lega bahwa salah satu anggota keluarganya telah ditemukan. Inilah yang teringat selalu dalam benak saya, sulit dihilangkan dari ingatan ekspresi keluarga korban".  

Selesai membaca artikel pendek ini, kelegaan memenuhi pikiran saya. Ternyata dedikasi terhadap tugas kemanusiaan masih begitu " kental" bukan sekedar lips service belaka. Kalau hanya 1-2 kali dilakukan pencarian, tentu tak mungkin, karena terbukti sudah dillakukan 1253 kali. Sejujurnya, Saya angkat topi untuk dedikasi personel  Japan Coast Guard " Kurikoma". Luar biasa ! Salah satu hal yang membanggakan dari petugas negara Jepang, melayani kepentingan rakyat Jepang. Pelayan bagi rakyatnya ! Memang pantas diangkat sebagai tajuk berita !    

2016.03.07 Hani Yamashita    




Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rycnomama/pencarian-korban-hilang-setelah-5-tahun-bencana-gempa-dan-tsunami-jepang_56de1beaeaafbdcf098b4573

2014年7月1日火曜日

Bebas Visa = Pelonggaran Pengurusan Visa Ke Jepang ?


Sejak kemarin malam mulai banyak beredar kabar mengenai bebas visa ke Jepang. Berbagai mass media menuliskan bebas visa. Sangat menyenangkan tentunya. Salah satu judul dari artikel yang menarik perhatian saya adalah " Jepang Umumkan Bebas Visa"
http://news.detik.com/read/2014/06/17/173251/2610838/10/jepang-umumkan-bebas-visa-bagi-wni

Tetapi setelah saya baca, ada sedikit hal yang menganjal. Tak masuk ke logika. Sepertinya bukan sepenuhnya bebas visa, lebih pantas di sebut pelonggaran pengurusan visa. Sepengetahuan saya, bebas visa itu berarti benar bebas visa tanpa perlu melaporkan terlebih dahulu ke kedubes yang bersangkutan atau Konjen.



Sumber: http://news.detik.com/read/2014/06/17/173251/2610838/10/jepang-umumkan-bebas-visa-bagi-wni



Saya kutip pernyataan Takeyama Kenichi, Direktur Penerangan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar jepang di jakarta, Indonesia, per tanggal 17 Juni 2014  ( sumber: Halo Jepang)
http://www.halojepang.com/kebijakankerjasama/7902-pelonggaranvisa

" Banyak yang salah paham, tepatnya adalah pelonggaran pengurusan visa bukan pembebasan visa, dan masih butuh waktu untuk persiapan pemberlakuannya, karena melibatkan berbagai instansi, tidak hanya Kementrian Luar negeri, tapi juga Imigrasi, dan lainnya".

Setelah bertanya lebih lanjut ke pihak KBRI Tokyo, barulah semakin terang benderang. Proses pelonggaran pengurusan visa memang membutuhkan proses dan tentunya satu kemajuan yang patut di apresiasi.

Pelonggaran pengurusan visa bagi warganegara Indonesia pemegang E-paspor/ paspor Elektronik Indonesia bukan pemegang paspor biasa. Ini yang harus di garis bawahi. E- Paspor  atau Paspor elektronik ini masih terbatas pengeluarannya di setiap KANIM ( Kantor Imigrasi). Hanya KANIM Jakarta, Batam dan Surabaya yang telah mampu mengeluarkan E-paspor/ paspor Elektronik. Sedangkan untuk luarnegeri, hanya 2 KBRI yang mampu yaitu Singapura dan Malaysia.

Setelah mendapatkan E-paspor/ paspor Elektronik terlebih dahulu harus melaporkan paspornya ke kedutaan besar Jepang atau Konsulat Jenderal Jepang di seluruh Indonesia. Ada 4 yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Makasar. E-paspor/ Elektronik Paspor ini akan di catat, apakah memenuhi syarat atau tidak . Setelah dianggap memenuhi syarat, barulah dapat mengunjungi Jepang tanpa mengurus visa, dengan catatan durasi kunjungan di bawah 15 hari. Kurang lebih begitulah proses yang harus dijalani. Intinya, masih sama pengajuannya.

Waktu pun belum pasti karena baik pihak Indonesia maupun Jepang masih belum siap karena melibatkan banyak pihak dan banyak persiapannya. Hal yang bisa di maklumi tentunya, diharapkan paling cepat akhir tahun 2014.

Satu hal lagi, bagi pemegang E-paspor/ Elektronik paspor yang sudah memenuhi syarat dan akan berkunjung ke Jepang lebih dari 15 hari juga harus mengikuti prosedur biasauntuk mendapatkan visa dengan mengajukan permohonan aplikasi visa di Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal Jepang di Indonesia.

Bagaimana dengan pemegang paspor biasa ? sayang sekali, belum ada fasilitas seperti halnya E-paspor/ Elektronik paspor, masih harus mengikuti prosedur pengajuan visa seperti biasa hanya saja kalau jumlah banyak dan ditangani oleh pihak agen tour akan ada kemudahan mendapatkan visa. Aplikasi persyaratan mendapatkan visa akan lebih di permudah.

Tujuan utama pelonggaran pengurusan visa memang mempromosikan Jepang sebagai negara yang berorientasikan pariwisata, target 20 juta turis. Target yang cukup tinggi. Jadi memang yang diharapkan Jepang adalah kenaikan jumlah turis yang berkunjung ke Jepang karena sebelumnya ada banyak calon turis yang ingin berkunjung ke Jepang sering "terbentur" masalah visa.

Semoga kebijaksanaan ini juga di ikuti dengan penghapusan pembayaran VOA ( Visa On Arrival) bagi warganegara Jepang yang berkunjung ke Indonesia. Ada banyak warganegara Jepang yang rutin berkunjung ke Indonesia, ditambah lagi banyak turis Jepang yang begitu tergila-gila akan Bali. Hubungan yang seimbang, Jepang memperlonggar pengurusan visa demikian juga Indonesia menghapus VOA. Indonesia pun akan semakin banyak menerima turis Jepang yang berkunjung apabila VOA di hapuskan.

Akhir kata, semoga kebijaksanaan Jepang dalam hal pelonggaran pengurusan visa dimanfaatkan dengan bijaksana. Bagaimanapun kepercayaan itu mahal, jangan sampai justru bertambah pelanggaran pengunjung " illegal" ke Jepang, melebihi batas waktu yang ditentukan. Tentunya semakin banyak turis dari Indonesia pun akan semakin menggembirakan kami yang tinggal di Jepang, mempermudah bertemu teman dan sanak saudara. Berbeda kondisi kalau lebih banyak terjadi pelanggaran.

Satu pepatah terkenal, " Nila setitik rusak susu sebelangga", satu kesalahan yang kecil bisa merusak segalanya. Yang berbuat hanya sekelompok kecil, " illegal" yang menyalahgunakan kebijaksanaan baru ini, tetapi yang terkena justru kelompok besarnya yang sudah mengikuti aturan. Bangsa Indonesia, bangsa yang bijak tentunya paham cara menjaga kepercayaan dari negara Jepang. Buktikan !

" Selamat Datang ke Jepang ! ".


Salam,
Hani Yamashita



Ps: Telah dimuat di Kompasiana, 18 Juni 2014,
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/06/18/bebas-visa-pelonggaran-pengurusan-visa-ke-jepang--662839.html












Fans Jepang Memunguti Sampah Seusai Pertandingan World Cup Brazil

Hari minggu, 15 Juni 2014, pastinya hari kelabu bagi team sepakbola Jepang yang menyerah kalah dalam pertandingan sepak bola akbar World Cup. Skor terakhir 2-1 untuk pantai Gading. Hingar bingar pendukung team soccer Jepang meriah di pertunjukkan di seantero Jepang. Memang sepakbola cukup menempati peringkat yang lumayan di negara doraemon ini.

Kekalahan team Jepang ternyata tetap direspon secara sportif oleh para pendukung, fans Jepang di arena Pernambuco, Recife, Brazil. Seorang wartawan asing mengabadikan dengan apik tingkah laku para fans Jepang dan menuliskan di sebuah mass media.

Menarik bagi saya sehingga saya tuangkan dalam bentuk artikel. Para fans Jepang seusai menyaksikan pertandingan Jepang vs Pantai Gading justru merespon dengan baik team Jepang yang menghormat ke arah tribun penonton. Tak ada cercaan karena kekalahan team kesayangannya. Justru saling menghormat khas Jepang. Itu baru satu hal yang menarik bagi saya yang cukup lama tinggal di Jepang. Sikap sportivitas yang dijunjung tinggi baik team soccer maupun pendukung fans Jepang, jauh dari sikap anarkis. Tak ada acara pukul antar pendukung, fans lawan, apalagi merusak properti milik umum.

Berikutnya, para pendukung team Jepang seusai pertandingan melakukan hal yang mencengangkan bagi orang asing, bukan saya yang sudah lama tinggal di negara doraemon. Beberapa kelompok orang mengeluarkan kantong plastik berukuran besar warna biru muda untuk memunguti sampah yang berserakan. Para pendukung team Jepang tak sadar bahwa tingkah lakunya yang memunguti sampah menarik perhatian wartawan asing yang sedang bertugas meliput acara Jepang vs Pantai Gading.

Memungut sampah seusai acara adalah hal yang lumrah di Jepang, itulah sebabnya fans Jepang kompak melakukannya. Kompak menjaga kebersihan. Inilah yang saya acungi jempol, luar biasa ! walaupun saya telah cukup lama tinggal di Jepang pun sering kali masih "keteteran" dengan tingkah laku spontan warga Jepang. Jangan tanya susahnya adaptasi saat pertama kali tiba di Jepang untuk hal urusan sampah !


Permalink gambar yang terpasang
Sumber: https://twitter.com/WorIdCupProbs/status/478250315657920513/photo/1



Masyarakat Jepang sudah sejak kecil " brainwashing" diajarkan tentang kebersihan sehingga sejak dari kecil pun anak-anak sudah di perkenalkan buang sampah harus di tempatnya ! Pernah saya menyaksikan sesuatu yang bagi saya sangat membekas di benak. Saat itu ada seorang ibu dan anak berusia 3 -4 tahun. Kebetulan sang buah hati sedang pilek berat. Ibu tersebut membersihkan ingusnya. Saya pikir lumrah karena saya pun demikian terhadap anak-anak. Yang bikin shock, mengeluarkan saputangan dan membantu anak buang ingus di atas saputangan. Selesai membersihkan ingus yang penuh lelehan yang begitu aduhai, sang ibu memasukkan saputangan ke dalam sakunya. Saya yakin cukup basah kuyup karena ingusnya banyak sekali ! Spontan saya tanya ke teman, seorang ibu Jepang, " Kenapa tidak menggunakan tissue dan langsung buang itu ingus? " Kenapa gunakan saputangan? Kotor dan pastinya tdk mudah di bersihkan. Itu namanya menambah pekerjaan di rumah !"

Tahukah jawaban dari teman orang Jepang? Pertama, saputangan itu halus untuk hidung anak yang pilek. Tissue bisa mengikis jaringan kulit di bawah hidung sehingga lecet karena itu sang ibu sudah bener menggunakan saputangan yang lembut. Pilek berat pastinya berulangkali buang ingus dalam sehari. Kedua, saputangan penuh ingus memang harus dimasukkan saku walaupun kotor. Demikian juga dengan tissue kotor pun tak boleh dibuang sembarangan, kalau tidak ada tong sampah ya masukkan saja ke dalam tas, saku atau bawa kantong plastik setiap saat pergi. Tunggu sampai ketemu tong sampah baru buang ! Glek, saya langsung terdiam.

Demikian sekilas gambaran kebiasaan bersih orang Jepang. Mereka sudah terbiasa, spontanitas membersihkan sampah seusai acara apapun. Biasa bagi orang Jepang, mengagumkan bagi masyarakat dunia, salah satunya wartawan Brooks Perck. Itulah salah satu hal yang menarik dari komunitas masyarakat Jepang, buang sampah dan memungut sampah seusai acara. Sangat bagus untuk diterapkan, menjaga lingkungan supaya tetap bersih dari sampah !

salam,
Hani Yamashita

Sumber: http://sports.yahoo.com/blogs/soccer-dirty-tackle/japanese-fans-clean-up-their-section-after-world-cup-match-against-ivory-coast-015533399.html?soc_src=mediacontentstory


Ps: Telah dimuat di Kompasiana, 16 Juni 2014,
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/06/16/fans-jepang-memunguti-sampah-seusai-pertandingan-world-cup-brazil-662343.html

2014年6月16日月曜日

Acara " Little Tokyo Ennichisai Blok M 2014 " Terakhir kali di Selenggarakan karena Tak Mampu Bayar Suap !

Judul yang tendensius bukan ? Sama halnya dengan saya saat membaca sebuah artikel dan sebuah pengakuan menyedihkan dari seorang ketua pelaksana acara " Little Tokyo Ennichisai blok M 2014", Daisei Takeya.

Acara ini sebenarnya merupakan acara perkenalan kebudayaan Jepang dan sudah diadakan sejak tahun 2010. Festival tahunan dan konon pengunjung tahun ini membludak hingga 200. 000. Jumlah yang sangat menggiurkan tentunya.

Sebuah artikel berjudul " Acara Little Tokyo Ennichisai Blok M Dihentikan dan Tidak ada Lagi", per tanggal 8 Juni 2014
( Silakan klik, http://todaynippon.com/event/3503).

Semakin dibaca, semakin heran benak pikiranku. Lho, masih ada ya kejadian suap, pungli, sogokan, uang haram, uang panas? Sebelumnya saya cukup yakin bahwa kondisi Indonesia semakin membaik terutama untuk hal-hal pungli dan suap sejak pak Jokowi dan Pak Ahok menjabat sebagai Guberner dan Wakil Gubernur di ibukota negara Indonesia. Apakah hal yang terjadi pada " Acara Little Tokyo Ennichisai Blok M 2014" tidak termasuk kategori pungli dan suap ya ? Mungkinkah disebut sumbangan suka rela ? Tetapi seandainya sumbangan sukarela, kenapa penyumbangnya berkeluh kesah merasa dimanfaatkan? Pastinya sesuatu yang memberatkan dan layak dikategorikan sebagai pungli, suap!



sumber: http://todaynippon.com/event/3503

Silakan baca curahan hati dari Daisei Takeya, ketua pelaksana acara ( sumber facebook Daisei Takeya dan telah diterjemahkan).

Satu minggu telah berlalu dan perayaan Ennichisai yang ke-5 pun telah berakhir. Saat melihat video tentang Ennichisai di Youtube, sepertinya kami para panitia dan volunteer kembali berhasil membuat acara yang sukses. Saya ingin berterima kasih kepada orang-orang yang sudah mendukung dan bekerja sama dari awal. Meski banyak fitnah ataupun masalah, kita tetap bertahan sampai akhir, dan telah menjadikan acara ini sebagai acara yang diakui oleh banyak orang.

‘Sebenarnya saya memiliki niat baik dan bermaksud untuk memberikan konstribusi kepada Blok M, tetapi saya sangat dipersulit dan dimintai banyak sekali uang suap. Hanya beberapa hari sebelum acara, saya dimintai uang pelicin, dan jika tidak membayar maka acara tidak bisa diadakan. Karena merupakan ‘pemilihan waktu’ yang sangat sulit dan tidak mungkin bagi saya untuk membatalkan acara ini, saya memohon sangat agar acara ini tetap diadakan, dan membayar sejumlah uang yang diminta. “Orang dari kedudukan yang tinggi, tidak mengambil keputusan yang baik”, sepertinya saya telah dimanfaatkan oleh orang seperti ini. Sebenarnya, dengan semua jerih payah volunteer, saya berencana untuk memberikannya kepada Blok M dan lingkungan sekitarnya, tetapi sangat disayangkan, karena harus membayar uang pelicin tersebut saya tidak bisa mewujudkannya. Orang yang rela berusaha demi orang lain, dengan orang yang hanya memikirkan uang saja, sepertinya memang tidak bisa disatukan.’


Saya merasa, saya harus meminta maaf kepada ratusan ribu orang yang bergembira akan kehadiran Ennichisai. Persahabatan antara Indonesia dan Jepang, kegembiraan perayaan Jepang setahun sekali yang dihadiahkan oleh orang Jepang untuk Indonesia. Dengan adanya beberapa orang berniat jahat seperti ini, terwujudnya Ennichisai pun menjadi sulit. Jangan bersedih, karena mungkin di lain waktu akan ada sesuatu yang baru, tetapi saya terpaksa untuk menghentikan Ennichisai di Little Tokyo.


Alinea kedua dari curahan hati Daisei Takeya sungguh mengejutkanku. Terjemahan dalam bahasa Indonesia saja sudah bikin trenyuh apalagi kalau membaca tulisan aselinya dalam berbahasa Jepang. Akh, ternyata masih ada juga di Jakarta " Raja kecil" yang suka memalak, memanfaatkan kedudukan/kekuasaan demi uang. " Raja kecil" ini juga yang bikin rusak negara Indonesia. Saya tak menyebut koruptor melainkan cukup " Raja kecil", lebih halus istilahnya. " Raja kecil" ini biasanya ada banyak anak buah dan punya daerah kekuasaan tersendiri, dan pastinya uang di gunakan untuk memperkaya diri sendiri. 


Alangkah baiknya " Raja kecil" di tegur oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selaku Plt Gubernur DKI. Pihak penyelenggara acara juga sebaiknya melaporkan hal ini kepada pak Ahok agar ditindak lanjuti. Alangkah memalukan apabila Indonesia terus menerus hancur namanya hanya karena ulah para pemalak. Oknum yang memanfaatkan kekuasaan dengan cara sewenang-wenang. Bagaimana pun acara Little Tokyo ini memberikan banyak kegembiraan bagi warga sekitarnya. Sama halnya dengan saya yang tinggal di Jepang pun suka sekali mengikuti Indonesia Festival, Thai festival dan ada banyak acara-acara sejenisnya. 


Sepanjang yang saya ketahui di Jepang, Indonesia Festival pun termasuk acara yang "baru" dan rutin diselenggarakan tiap tahun. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang. Lihat sama tujuannya dengan Little Tokyo Ennichisai Blok M, memperkenalkan kebudayaan. Tak seharusnya di palak hingga membuat ketua pelaksana Daisei Takeya patah semangat karena saking tak sanggupnya membayar suap, pungli, atau palak ! Saya perkirakan pasti jumlah besaran uang pungli luarbiasa besar dan bukan hanya satu kali saja terjadi. 


Dimana hati nurani " Raja Kecil", seandainya di Jepang pun sama ada kejadian seperti ini ? Misalnya, penyelenggara ketua pelaksana Indonesia Festival di palak ? disuruh bayar suap secara gila-gilaan hingga harus mengiba-iba bagaikan pengemis?  Sangat menyedihkan ternyata Indonesia masih ada juga oknum yang berkelakuan demikian. 


Artikel pendek ini hanya sekedar catatan kecil bagi saya, ternyata oh ternyata Indonesia masih juga tak berubah, Ada oknum-oknum yang hobi memalak, pungli dan itu semua dilakukan demi uang. Semoga masalah Little Tokyo Ennichisai Blok M terselesaikan dengan baik dan tahun depan masih bisa di selenggarakan tanpa ada pungli dan suap ! Bagaimanapun saya juga ingin menyaksikan secara langsung Little Tokyo Ennichisai Blok M 2015 saat pulkam nanti. 


salam, 

Hani Yamashita

PS : Telah ditayangkan di Kompasiana per tgl 9 Juni 2014

http://metro.kompasiana.com/2014/06/09/acara-little-tokyo-ennichisai-blok-m-2014-terakhir-kali-di-selenggarakan-karena-tak-mampu-bayar-suap--660830.html






2014年6月9日月曜日

Anak Berkebutuhan Khusus pun Berharga di Jepang

Kokiers, lama tak menulis dan juga tak menyapa. Keinginan menulis hanya menggantung di benak kepala saja. Ternyata menulis tetap mengasikkan bagi saya.

Dalam satu perjalanan pulang ada satu hal pengalaman yang cukup menarik untuk sharing bersama kokiers. Saat itu saya menggunakan fasilitas kereta api jarak jauh untuk kembali ke kampung halaman di Saitama. Saya seorang diri. Sebuah pemandangan susah di lupakan, terpatri di benak.

Saat mendekati peron kereta api di stasiun Ikebukuro, Tokyo. Serombongan anak-anak muda dan juga orang tua berkumpul. Sesuatu hal yang lumrah. Mulanya saya tak perhatikan dengan seksama. Semakin dekat, saya amati, ada sesuatu hal yang menarik perhatianku. Masih tersisa 30 menit lagi  sehingga pemandangan yang berada di depanku juga yang jadi obyek perhatian.

Rombongan anak muda ada 7 orang, berusia 13 tahun hingga 16 tahun, semuanya anak laki-laki. Sedangkan rombongan orang tua, berjumlah 5 orang pula. Masing-masing orang tua mendampingi  anak 1-2 anak. Dalam hitungan menit, aku mulai paham bahwa ketujuh anak laki-laki, besar kemungkinan penderita " down syndrome" atau mungkin juga " Autisme". Saya sendiri kurang paham perbedaannya.

Tiba-tiba salah seorang anak berteriak keras-keras. Meledak tangisannya. Tak mudah para pembimbing menghiburnya. Entah apa penyebabnya. Belum selesai, menyusul anak laki yang lain juga berguman seorang diri. Hmm, saya berusaha meredam rasa terkejut. Hanya terdiam menyaksikannya. Kalau orang Jawa bilang, " Ojo gumunan", jangan mudah kaget, takjub. Pastinya tak mudah merawat dan menjaga anak dengan keperluan "khusus" seperti ini.

Ternyata saya satu gerbong bersama rombongan anak-anak muda ini. Tepat di seberang saya. Jadilah saya cermati saja segala gerak gerik mereka. Para pembimbing sesekali berucap, " maaf, mengganggu ya. Harap dimaklumi". Saya hanya mengangguk dan menjawab, tak apa. Toh, saya juga bisa memaklumi sukarnya mengawasi anak-anak demikian.

Perjalanan lebih kurang satu jam ternyata diisi penuh "kemeriahan". Saya tak menuliskan, berisik, ribut atau penuh teriakan. Sejak saya memasuki gerbong kereta api, saya sudah paham bahwa perjalanan satu jam adalah penuh dengan kemeriahan anak-anak muda ini. Tepat tebakanku.

Ketujuh anak bergantian saling berguman seorang diri. Berbicara seorang diri. Terkadang mengetuk kaca jendela. Berdiri dan berteriak. Tertawa. Sesekali menangis, meraung tak hentinya. Kuhabiskan bento di atas kereta api. Suara yang begitu " meriah" tak menganggu konsentrasiku. Kubiarkan saja. Selesai menikmati bento, kunikmati pemandangan luar. Tak menarik lagi ! Mataku terpejam, istirahat sebentar.

Akhirnya kuhabiskan waktuku di dalam kereta untuk menulis artikel ini. Jadilah satu artikel khusus kokiers. Yang saya kagum sekaligus salut melihat cara memperlakukan anak-anak berkebutuhan "khusus" ini dengan cara manusiawi dan sekaligus tegas. Bukan memaki. Berulangkali pembimbing yang paling tua, beranjak dari kursi untuk menenangkan anak asuhnya. Nada suara tegas dan anak tersebut mengikuti perintahnya. Tetapi hanya sesaat, bergantian lagi dengan yang lainnya.

Tiba juga kereta api di pemberhentian terakhir. Ternyata tujuan pun sama. Akh, anak-anak muda ini semoga bahagia selalu. Walaupun berkebutuhan khusus tetapi pastinya ada harapan untuk meraih cita-cita. Sekecil apapun yang bisa di hasilkannya, itu juga patut dibanggakan.

Salam,
Hani Yamashita

Ps: Telah di muat di KoKi per tanggal 24 Mei 2014
http://kolomkita.viva.co.id/baca/artikel/33/4400/anak_berkebutuhan_khusus_pun_berharga_di_jepang


2014年5月24日土曜日

Vending Machine Paspor di KBRI Tokyo

" Birokrasi", satu kata sudah cukup membuat mual perut. Mengurus administrasi identik dengan segala hal yang berimage tak baik. Apalagi kalau soal pengurusan KTP, paspor, surat-surat yang berhubungan dengan pemerintahan. Itu image yang ada di sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk saya. Jauh hari, saya sudah malas memikirkan pengurusan perpanjangan paspor di KBRI Tokyo.

Teringat pengurusan paspor yang sebelumnya cukup " alot", walaupun akhirnya " goal" juga. Segala persyaratan yang dibutuhkan untuk perpanjangan paspor pun kupersiapkan sedetail mungkin agar tidak bolak balik lagi.

Syarat yang dibutuhkan pun lengkap sudah ! Mulai dari bukti domisili, akta lahir, akta nikah/cerai, surat keterangan kerja, bahkan foto terbaru ukuran 3x4 cmplus download formulir permohonan S.P. R.I pun saya siapkan. Silakan lihat lebih lengkapnya di website KBRI Tokyo,
http://kbritokyo.jp/layanan-publik/layanan-wni/persyaratan-permohonan-paspor-ri/

Dalam benak saya, butuh waktu 3-4 jam untuk penyelesaian semuanya, termasuk antri. sesuai rencana, tanggal 19 Mei adalah hari yang tepat untuk mengurus paspor. Bukan hari libur, dan hari cerah sesuai ramalan cuaca. Ijin untuk " terlambat" datang kerja pun sudah saya kantongi. Beres sudah ! Anak-anak pun sudah saya beritahu jauh hari rencana saya untuk mengurus paspor. Jaga-jaga kalau saya terlambat pulang.

Tepat pukul 9:50 pagi, saya tiba di stasiun Gotanda. Bergegas keluar dan berjalan kaki menuju KBRI- Tokyo. Tak jauh, jalan kaki sekitar 15 menit saja. Tiba di luar terlihat seorang resepsionis cantik sedang sibuk melayani pasangan suami isteri yang mengembalikan pin tanda berkunjung. Sembari menunggu giliran, saya amati situasi sekitar. Melihat orang berlalu lalang.

Setelah mendapatkan pin, saya di persilahkan masuk ke kantor sebelah kanan. Saatnya mengurus dokumen. Tak ada yang berubah, masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Box foto pun sama letaknya. Beberapa orang telah hadir dan sibuk mengisi formulir. Sebuah loket sebelah kiri menarik perhatianku. Seorang petugas dengan ramahnya segera berdiri dan bertanya dengan bahasa Jepang. Oh, ternyata saya salah menghampiri loket. Seharusnya, loket utama yang berada tepat di tengah ruangan. Hmm, heran juga saya ditegur dengan bahasa Jepang dan bukan bahasa Indonesia.

Sosok petugas bertubuh besar terlihat sedang sibuk menelpon. Sosok yang familiar di kalangan masyarakat Indonesia di Tokyo dan sekitarnya. Pastinya hari yang sibuk. Saya menunggu hingga beliau selesai dengan pembicaraan di telpon. Begitu selesai, tanpa sempat duduk. Beliau dengan lincah segera berjalan menuju loket depan. Tubuhnya yang besar tak mengurangi kelincahannya untuk segera merespon pengunjung yang membutuhkan informasi.

" Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu? "
" Oh, bu Hani. apa kabar?", tegurnya dengan nada ramah.

"Selamat pagi, pak Darus. Iya, pengurusan perpanjangan paspor. Sebelum habis masa berlakunya, saya segera kemari untuk mengurusnya".

Pak Darus dengan sigap menjelaskan hal-hal yang penting tentang pengisian formulir. Ada 3 formulir yang harus saya isi. Coretan pulpen hitam, menandakan saya tak perlu mengisi bagian tersebut. Pening melihatnya. Pengisian butuh waktu cukup lama karena sesekali saya harus " menyontek" dari paspor lama dan identitas diri lainnya. Kulirik jam di tangan, pengisian formulir butuh waktu 15 menit.

Setelah selesai pengisian formulir, saya segera kembali ke loket utama. Pak Darus kembali menerangkannya dengan ramah. Foto diri harus di tempel pada formulir permohonan. Hal yang mengejutkan, saat pak Darus menerangkan tentang tata cara pembayaran.

" Bu Hani, pembayaran administrasi dilakukan tersendiri ya. Dekat pintu keluar ada satu mesin pembayaran. Pencet tombol nomor 1 ya. Kalau sudah selesai, bisa kembali kemari"

Sesaat saya masih bingung. Maksudnya? Yang terima uang administrasi siapa? bukannya dahulu ada petugas yang terima uang pembayaran. Saat itu, petugas penerima sedikit kerepotan karena saya hanya ada uang "besar" 10.000 yen. Saya lupa menyiapkan uang pas. Jadilah saya menunggu cukup lama. Hari ini sudah saya persiapkan uang administrasinya dengan teliti.

Displaying DSC_3867.JPG


























Saya berjalan mengikuti petunjuk. Sebuah mesin otomatis terpampang tepat di depan. Sebuah kejutan yang menyenangkan ! layaknya membeli minuman ringan , soft drink, ternyata KBRI pun ada juga pembayaran dengan vending machine. Mungkin juga telah dilakukan beberapa tahun yang lalu, 2 tahun yang lalu. Entahlah ! Satu hal yang pasti, saya sangat mengapresiasi cara pembayaran dengan vending machine ini. Segala sesuatunya " terang benderang", apa adanya. Hal yang sangat bagus, semoga bisa di terapkan di Tanah Air. Pembayaran dengan vending machine ini sedikit banyak bisa mengatasi banyak masalah " korupsi". Bukti pembayaran tertera dengan jelas, apa adanya. Hal ini bisa mengurangi kongkalikong yang banyak terjadi saat pengurusan administasi di kantor pemerintahan. Dari segi waktu, lebih cepat, praktis tentunya.

Hal lain, vending machine ini menimbulkan rasa nyaman dan percaya bahwa uang administrasi yang saya bayarkan adalah benar-benar masuk ke kas negara dan bukan masuk ke "kantong lain". Perubahan yang bagus.  Indonesia pun mampu kalau mau berubah.

Administrasi yang bagus dan teratur, bersih, adalah salah satu ciri negara maju. Tak ada negara maju dengan administrasi yang amburadul dan " gelap gulita" penuh dengan korupsi. Majulah selalu Indonesia ! Negara lain bisa, tentunya Indonesia pun bisa ! Pelayanan yang ramah, sigap dan bersih, ternyata mampu menghapus kesan negatif saya.

Tak Terasa pengurusan perpanjangan paspor hanya butuh waktu 45 menit saja. Seandainya saya lebih sigap mengisikan lembaran formulir mungkin hanya butuh waktu kurang dari 30 menit saja. Bravo untuk KBRI Tokyo ! Saya acungkan jempol untuk pengurusan yang bagus.

Tepat 3 hari saya menerima paspor baru dan paspor lamadalam satu paket yang di kirim per pos. Tepat waktu, dan semuanya pun sudah terkomputerisasi,  tak di temukan lagi tulisan tangan di bagian paspor. Kemajuan yang pesat !

Salam,
Hani Yamashita


Ps: Telah di muat di Kompasiana
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/05/24/vending-machine-paspor-di-kbri-tokyo-657473.html