2016年10月6日木曜日

Belajar Dari Maya Nakanishi, Atlet Jepang Yang Luar biasa


maya-nakanishi-1

BELAJAR DARI MAYA NAKANISHI, ATLET JEPANG YANG LUAR BIASA

Paralympic atau Paralimpiade, olimpiade bagi atlet penyandang disabilitas memang telah berakhir. Diselenggarakan sesudah Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brazilia. Kegiatan Paralympic ini dimulai dari tanggal 7 September hingga 18 September 2016. Gebyar kemeriahan dan hiruk piruk pertandingan memang sudah selesai. Ada banyak hal menarik yang bisa di amati dari kegiatan Paralympic.

Slogan "Yes, I Can" (Ya, saya bisa), santer dikumandangkan di sudut-sudut kota Rio de Janeiro. Atau juga, "We're the superhuman!" Kami adalah manusia super! Sejatinya memang atlet penyandang disabilitas adalah manusia super. Bayangkan saja, manusia biasa saja belum tentu mampu melakukannya tetapi para atlet penyandang disabilitas justru dengan segala kekurangan bagian tubuhnya mampu meraih prestasi olahraga yang luar biasa. Semangat juangnya sungguh luar biasa!

Satu atlet penyandang disabilitas dari negara Jepang yang cukup populer adalah Maya Nakanishi. Wajahnya cantik, postur tubuhnya pun menyiratkan kepercayaan diri yang tinggi. Tak terlihat sama sekali bahwa Maya Nakanishi adalah seorang penyandang disabilitas. Postur tubuh 158 cm termasuk umum di kalangan masyarakat Jepang, tak terlalu tinggi tetapi yang menakjubkan adalah prestasi yang mampu diraih seorang disabilitas.

Atlet kelahiran 6 Maret 1985 ini mulanya adalah seorang atlet soft tenis yang cukup mumpuni. Tetapi malang tak dapat ditolak. Tahun 2006 ia mengalami kecelakaan yang parah, yang berakibat kaki kanannya harus diamputasi demi menyelamatkan jiwanya. Sejak itulah Maya Nakanishi berubah seluruh ritme kehidupannya, menjadi seorang penyandang disabilitas.

Perjuangannya untuk kembali menjadi seorang Maya Nakanishi yang "normal" tentu saja tak mudah. Dari seorang yang lincah lari kesana kemari, tiba-tiba harus kehilangan bagian tubuh, kaki kanan. Tak lama larut dalam kesedihannya, Maya Nakanishi berjuang kembali meraih impiannya. Kemauannya yang kuat untuk bangkit itulah yang menjadikan Maya Nakanishi mampu menjadi atlet penyandang disabitas yang hebat seperti sekarang.

Sprinter asal Negeri Sakura ini, tahu apa yang ingin dicapainya dan untuk mencapai impiannya. Ia tidak segan untuk bekerja keras mewujudkannya. Satu pesan darinya, "Meskipun tidak punya kaki, tetaplah berlari meraih impian, kawan!"

Saat ini Maya Nakanishi semakin mantap dalam debutnya, lari 100 m, 200 m, dan lompat jauh. Bayangkan seorang penyandang disabilitas mampu melakukan hal-hal yang dilakukan manusia normal lainnya. Belum tentu juga orang normal mampu melakukannya, mencapai rekor tercepat dalam lari 100 m, 200 m dan lompat jauh. Anda lihat penampilan Maya Nakanishi dan pasti akan kagum melihat kemampuannya memanage kekurangan bagian tubuhnya menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa. Sosok inspiratif yang pantas untuk diacungi jempol!

Sosok Maya Nakanishi ini pastinya adalah satu sosok yang tahu bagaimana untuk sukses dalam kehidupannya. Impiannya adalah meraih medali emas untuk Paralympic Tokyo 2020. Dan demi impiannya itulah Maya Nakanishi rela berlatih dengan keras.

"Hukum sukses yang paling sederhana adalah tahu apa yang kita mau dan berjuang dengan sepenuh hati. Kalau gagal, bangkit dan berjuang lagi! Maka sukses besar pasti menanti. (Andrie Wongso)

Salam luar biasa,

Hani Yamashita - Jepang

Ps: Telah dimuat AndrieWongso.com  pada tgl 4 Oktober 2016

      

2016年10月1日土曜日

Boleh Miskin Harta Tapi Tidak Boleh Miskin Mental!

Boleh Miskin Harta Tapi Tidak Boleh Miskin Mental!

ogawa-san

Ohayou gozaimasu. Selamat pagi", sapaku saat melihatnya berada tepat di depan pintu utama toko. Seorang wanita tua. 

Senyum mengembang di wajah keriputnya. Sudah lebih dari separuh abad usianya. Penampilannya amat sangat biasa. Tidak lusuh, biasa saja, tidak bermerek tapi bersih. Sering sekali ke toko, mencari aneka barang. Saking akrabnya bahkan menjadi "pelanggan istimewa" yang sering sekali membawa buah tangan hasil kebunnya. Tangan seorang pekerja keras, kasar, dan tidak mengenal hand body lotion.

Sebut saja namanya, Ogawa-san. Sejak awal mengenalnya, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di benakku. Bukan usil atau ingin tahu urusan orang lain, hanya berusaha memahami karakter pelanggan saja. Menjalin keakraban saja. Kalau istilah zaman kekinian adalah memperluas networking, jaringan kerja. Seiring dengan berjalannya waktu, keakraban terjalin dan kami sudah layaknya teman.

Ogawa-san, ibu Ogawa ini seorang pekerja keras. Memiliki kebun yang luas dan sangat hemat. Bukan pelit, tapi hemat dalam memperhitungkan pengeluaran uangnya. Di Jepang, tipe manusia hemat sangat lumrah karena memang biaya hidup di Jepang mahal. Ibarat kata, satu yen juga dihitung karena memang hidup mereka keras dan uang tersebut halal dari kerja keras mereka. Alhasil, mereka sangat perhitungan dan sangat rinci dalam mempergunakan uang hasil kerja kerasnya. Tidak buang uang dengan mudah.

Masa mudanya diisi dengan bekerja keras. Membantu suami menambah penghasilan demi masa depan anak-anaknya. Hidupnya diabdikan untuk keluarga kecilnya. Di kala usia senja, Ogawa-san masih terlihat sehat dan ceria setiap saat.

"Hidup itu harus optimis. Banyak kendala, itu namanya orang hidup. Perjuangkan dan cari solusinya. Kalau hanya menangis, mengeluh.. setiap orang juga bisa. Boleh saja menangis, mengeluh tetapi setelahnya harus segera bangkit dan segera cari solusi," itulah salah satu kata-katanya yang seringkali diucapkannya.

Satu kali dalam kehidupannya yang keras pun ia pernah mengalami masa-masa sulit. Suami sakit keras dan anak-anak masih kecil, butuh biaya hidup yang tak sedikit. Pada masa itu, Ogawa-san "mengambil alih" tugas dan peran sebagai bapak dan pencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Ogawa-san melakukan 3 shift pekerjaan part-time dalam sehari. Tidur hanya saat dalam perjalanan menuju ke tempat bekerja. Di Jepang, memang lumrah dobel pekerjaan part-time. Malam hari, di kala orang tidur dengan nyenyak, Ogawa-san justru harus bekerja keras di sebuah mini market. Pekerjaan yang dilakukan memang tidak menghasilkan banyak uang tetapi cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya. Hal itu dijalaninya cukup lama, lebih dari 5 tahun. Beruntung, suaminya perlahan pulih dan bisa bekerja kembali. Tidak full time, tetapi kesehatan suami yang pulih sudah sangat membantu dalam mengatasi beban hidup.

"Masa itu, aku tidak sempat menangis lagi. Air mataku sudah kering. Mengeluh, menangis pun tak ada gunanya. Apa yang bisa kukerjakan demi kelangsungan kehidupan keluargaku, hanya itu yang ada di dalam benakku. Tak terbersit dalam benakku untuk melakukan hal konyol, bunuh diri. Kami harus menghadapi kenyataan yang ada di depan mata dan segera cari solusinya agar anak-anak bisa melanjutkan hidup," ujarnya dengan nada pelan. Sejenak Ogawa-san menghapus air mata yang mengembang di kelopak mata, mengingat kembali perjalanan hidupnya. Segera aku bangkit dan menyodorkan secarik tisu untuknya. Menenangkannya dan membiarkan Ogawa-san meluapkan emosinya. Aku menunggu hingga ia tenang kembali. Mendengarkan, juga sudah membantunya. Ah, perjalanan hidup anak manusia memang beraneka ragam, selalu ada satu masa sulit yang harus dilalui.

Dari Ogawa-san, ada banyak yang bisa di pelajari. Semangat hidupnya yang luar biasa. pandangan hidupnya yang selalu positif, optimis, berani menghadapi kenyataan pahit, kaya mental. "Boleh miskin harta tapi tidak boleh miskin mental," seperti yang diungkapkan, Andrie Wongso, bapak motivator kita di Indonesia. Ternyata Ogawa-san memang kaya mental! Manusia yang luar biasa, patut diacungi jempol.

"Berani menghadapi kenyataan adalah cara efektif untuk membuang kekhawatiran karena kecemasan tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri kita." (Andrie Wongso)

Salam luar biasa, 
Hani Yamashita - Jepang
_______________________
*) foto adalah ilustrasi

Ps: Telah di muat di Andrie Wongso.com, 22 September 2016
http://www.andriewongso.com/boleh-miskin-harta-tapi-tidak-boleh-miskin-mental/

Catatan Kecil: “Mental Tangguh dan Dewasa”

writing-note-1

Suasana dalam gerbong kereta sebenarnya cukup lenggang. Tidak penuh sekali layaknya hari biasa. Tapi memang posisiku berdiri dalam gerbong kereta mungkin termasuk favorit. Terbukti, satu demi satu orang mendekat di sampingku. Ada yg di depan, ada yg di samping dan juga ada yg di belakangku.

"Apes dah, hari ini kejepit. Kanan kiri tidak bisa gerak. Apa boleh buat, sabar-sabar dikit. Mungkin pemberhentian stasiun berikutnya bisa sedikit leluasa atau cari tempat duduk," gumamku dalam hati.
Seorang pria usia sekitar 20 tahunan membuatku terkesima. Mulanya tidak menarik perhatianku. Kupikir dia bicara dengan teman atau handphone. Ternyata bicara seorang diri. Memang, ada juga orang Jepang yang kutemui kadang kebiasaan ngomong sendiri. Tak masalah. Jadi aku pun diam, masa bodoh asal tidak "berurusan". Sembari diam, terdengar juga gumanannya. Bahasa Jepang, jadilah aku tetap paham inti dari ocehannya. Hanya tentang pertandingan softball. Ada sedikit rasa lega. "Waras nih orang, jadi aku tidak ambil pusing. Monggo, silakan nyerocos".

Makin lama aku semakin "tidak nyaman" dengar gumamannya. "Lha kok kayak orang curhat ya?" Pandangan mata pemuda ini juga kosong. "Cilaka 12, ini cowok kayaknya rada bermasalah jiwanya. Harus cari akal supaya aku bisa duduk sekaligus menghindar dari orang ini." Beruntung, pemberhentian berikutnya, serombongan penumpangan turun.

Pucuk dicinta ulam tiba, segera aku bergegas menuju tempat duduk. Eh, si pemuda ikut juga, bahkan ikut duduk pas di sampingku. Aduh, aku terpaksa mendengarkan gumamannya minimal hingga stasiun berikutnya. Makin lama, saya tertarik juga dengar keluh kesahnya.

Intinya, si pemuda stres karena tidak terpilih sebagai anggota tim softball. Dirinya merasa mampu, tapi kenapa tidak dipilih. Ia menyalahkan temannya karena teman curang dan selalu cari muka di depan pelatih. Akhirnya dalam pertandingan tetap kalah. Si pemuda tidak terima dengan kekalahan pertandingan dan tidak bisa terima bahwa bukan dirinya yang jadi pemain dalam pertandingan softball tersebut.
9378026
"Cepatlah sampai atau minimal ada kesempatan kabur dari situasi seperti ini. Kok bisa aku diikuti terus oleh pemuda ini? Orang begini banyak, malah aku yang diikuti. Mimpi apa aku semalam," kataku dalam hati. Mau berdiri pun, di depan juga ada orang. Apalagi jalan kaki, jelas tidak bisa.
Situasi berubah. Pemberhentian berikutnya, gerbong cukup lapang. Cukup banyak penumpang yang turun. Segera aku beranjak dan "kabur" ke kursi yang cukup jauh. Pokoknya menjauh sejauh mungkin dari si pemuda. Eh, nggak salah tuh penglihatanku? Itu pemuda masih ikut-ikutan juga. Dia juga ikut beranjak dari kursi dan gilanya malah berdiri cukup dekat dengan posisiku. Alamak, aku harus mendengarkannya lagi! " Sudahlah, biarkan saja, mungkin si pemuda butuh pendengar untuk keluh kesahnya".


Akhirnya, kuputuskan untuk duduk diam dan mendengarkan keluh kesahnya. Si pemuda "ngomel" ngoceh tak karuan, aku tetap diam tak bereaksi apapun hingga pemberhentian stasiun yang jadi tujuanku. Saat aku turun, si pemuda tetap berada dalam gerbong dan tetap meneruskan ocehannya. Lebih kurang, waktu 40 menit kulewatkan satu gerbong bersama pemuda malang ini.

Sembari melangkah turun menanti kedatangan kereta berikutnya, aku berpikir dan merenung. "Alangkah malang nasib si pemuda. Di saat masa indah yang harus dinikmati dengan penuh keceriaan dan semangat, si pemuda justru terpuruk dalam keputusasaan. Semoga saja ia bisa bangkit dan kembali melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik."

Situasi yang dialami si pemuda pas dengan quote dari Andrie Wongso, motivator kita di Indonesia.
"Saat kita sendirian dalam ketakutan, tidak ada orang yang mendampingi, kita akan belajar apa itu keberanian."

"Saat terpuruk dan menderita, orang lain tidak mau tahu, kita akan belajar apa itu ketegaran."
"Saat kita gagal dan posisi berada di bawah, kawan-kawan malah pergi menjauh, kita belajar lebih keras pada diri sendiri."
"Semua cobaan, tekanan dan penderitaan sejatinya adalah sebuah proses kritalisasi menuju mental yang tangguh dan dewasa, sebagai modal kita berjuang lagi, meraih hidup dan sukses yang lebih berkualitas dan bermartabat."

Salam luar biasa, 
Hani Yamashita - Jepang

Ps: Telah di muat di Andrie Wongso.com, 8 September 2016
http://www.andriewongso.com/catatan-kecil-mental-tangguh-dan-dewasa/

Anak Jepang Mandiri Sejak Dini

Japan-School-kids

Bulan Juni-Juli memang saatnya musim hujan di Jepang. Tiada hari tanpa hujan dan mendung. Pagi hari pun ada banyak anak-anak bersekolah, berjalan kaki, Kalau jauh biasa naik sepeda atau kereta lokal. Di hari hujan lebat pun tetap sama. Tak ada alasan untuk terlambat karena hujan. Dari kecil memang anak-anak Jepang dididik untuk mandiri. Hanya anak-anak TK yang biasanya masih diantar jemput orang tua atau ada fasilitas bis. Sedangkan anak-anak mulai dari SD biasa sudah dilepas mandiri, berjalan sendiri menuju sekolah.

Saat hujan pun, payung-payung kecil berurutan, berjalan kaki menuju sekolah masing-masing. Memang Jepang terjamin keamanannya dan relatif rendah tingkat kejahatannya. Menariknya, satu kejadian dimana salah satu peserta jatuh karena jalanan memang licin. Spontan ketua grup langsung berhenti dan membantu peserta yang jatuh. Ada yang membantu menggantikan membawa tas ranselnya. Si anak cukup tangguh juga mentalnya, tidak menangis. Dari arah seberang jalan, saya mengamati, ternyata grup ini kompak sekali dan saling bantu. Rasanya ikut lega.

Memang harus diakui, Jepang itu didikannya keras. Membiasakan anak untuk mandiri secara dini. Anak-anak dibiasakan pergi ke sekolah berjalan kaki dan tanpa diantar orang tua. Tidak ada istilah diantar. Kesannya memang kejam, tetapi di balik itu semua sebenarnya ada banyak kelebihannya. Membiasakan anak secara dini untuk kuat mentalnya, tanggung jawab dan mandiri.

Saat anak-anak masih kecil, kadang tidak tega juga melihatnya. Tapi seiring dengan waktu, anak justru semakin percaya diri bahwa dirinya mampu untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Ungkapan yang sering diucapkan untuk menepis rasa kekhawatiran adalah "Kawaii ko ni ha tabi wo saseyo". Mari antar anak-anak menuju satu perjalanan. Makna yang tersirat adalah, orang tua harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, belajar untuk mengurus diri sendiri karena suatu saat pun akan tiba waktunya bagi si anak untuk tumbuh dewasa dan hidup mandiri.

Kemandirian itu bisa dicapai dengan memberi banyak kesempatan mencoba. Pengalaman gagal sukses, pahit manis itu perlu bagi si anak untuk memperkaya pengetahuannya akan kehidupan.
Kehidupan di Jepang memang menunjang anak-anak untuk bisa pergi sekolah dengan berjalan kaki walaupun kadang jarak tidaklah dekat. Melihat anak-anak sekolah berada di dalam gerbong kereta seorang diri adalah hal yang biasa. Keamanan di jalan dan di sekolah memang terjamin. Biasa di tempat penyeberangan jalan pun ada orang tua murid yang bertugas untuk mengawasi anak-anak.

Memperbincangkan kemandirian anak Jepang sebenarnya sama juga dengan yang diungkapkan Andrie Wongso, motivator no 1 Indonesia. Kaya mental dalam artian tangguh dan mandiri. Jatuh bangun itu biasa. Gagal adalah satu proses menuju kesuksesan. Kemandirian pun juga butuh proses dan kesempatan mencoba secara berkelanjutan.

Salam luar biasa!

Ps: Telah dimuat di Andrie Wongso.com, 13 July 2016
http://www.andriewongso.com/anak-jepang-mandiri-sejak-dini/

Nilai Kejujuran Warung di Jepang

Nilai Kejujuran Warung di Jepang

unmanned store

Ini salah satu budaya yang sudah lama menjamur di Jepang. Mulanya aneh dan heran saja melihatnya. Kalau orang Jawa bilang, " Ojo gumunan". Unik dan mungkin bisa langgeng hanya di Jepang saja. Entah kalau negara lain ada, karena yang saya ketahui secara mendalam hanya di negara yang saya tinggali, Jepang.

Warung tanpa penjual, hanya mengandalkan kejujuran dari pembeli. Biasanya bangunan kayu sederhana, asal cukup untuk memayungi hasil jualan hasil bumi. Kubis, sayur, bawang bombay, daun bawang bahkan bunga. Apa saja dijual, sesuai yang dipunyai pemilik kebun. Paling banyak di temui di daerah pedesaan. Jangan harap di daerah elit Ginza, Tokyo, bisa menemukan warung seperti ini.
Bahkan pernah saya melihat sampai takjub, warungnya sungguh "vulgar". Tanpa apa pun juga. Terbayang kalau hujan bagaimana ini dagangannya..? Maksudnya, warungnya kadang hanya digelar di depan halamannya, tanpa bangunan sama sekali, hanya alas terpal berwarna biru atau hanya dikasih meja dan sebuah celengan. Ada tulisan tangan, silakan bayar sini bila beli barang. Sudah begitu saja!
unmanned store 3
Dahulu karena saking takjubnya, setiap melihat pasti potret sana sini. Nilai kejujuranlah, yang diutamakan di warung kejujuran. Kalau mau nakal juga, tidak ada yang melihatnya. Toh tidak ada CCTV. Silakan mau berbuat curang. Atau mau ambil juga, silakan, kalau tidak tahu malu dan tidak kasihan dengan pemilik kebun. Biasanya pemilik kebun ini sangat bahagia dan bangga dengan hasil kebunnya. Pilihan ada di tangan! Hal yang menyedihkan kalau hanya demi uang 100 yen melakukan hal yang tercela, mengambil barang dagangan tanpa bayar.

Warung kejujuran di Jepang ini mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Pertama, para petani atau pemilik kebun ini bekerja dengan sepenuh hati dan pastinya rajin sehingga bisa mendapatkan hasil panen yang berlimpah. Kalau malas, tak mungkin ada hasil panen yang layak diperjualbelikan. Saya suka mengamati hasilnya. Memang hasil panen masih kalah dengan yang dijual di supermarket tetapi tetap sangat layak dikonsumsi dan harganya murah.

Kedua, kejujuran juga salah satu hal yang penting dalam kehidupan. Warung sederhana ini mengajarkan orang untuk jujur. Kalau mau barangnya, maka bayarlah 100 yen untuk per item. Bukan masalah harga murah atau tidak, tetapi hal terpenting adalah kejujuran kita. Ada atau tidak pemiliknya, tidak jadi masalah. Sejatinya sebagai manusia memang harus saling menghargai dan jujur membayar 'kan?

Bekerja dengan sepenuh hati, rajin, telaten, ulet dan ditambah dengan jujur itulah hal-hal positif yang bisa diajarkan dari sebuah warung kejujuran di Jepang. Sama halnya dengan yang diajarkan Andrie Wongso, motivator no 1 Indonesia. Kaya mental! Sukses hanya bisa diraih oleh orang-orang yang kaya mental. Percayalah! Tak ada kesuksesan yang instan dan tidak jujur. Semua butuh proses!

Dimulai Dari Kita Sendiri

Dimulai Dari Diri Kita Sendiri

_85371269_thinkstockphotos-475032546

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya menyaksikan satu kejadian yang menarik. Di dalam kereta, ada berbagai macam tingkah dan kelakuan orang. Ada yang duduk bersandar, main hp ataupun smartphone, membaca buku, menenangkan balita dan ada juga yang bercakap dengan suara pelan. Saya tak mengenal siapapun di dalam kereta, hanya saja tertarik mengamati hal-hal di sekeliling saya.

Saat kereta memasuki stasiun berikutnya, ada satu penumpang “ khusus” yang ternyata akan masuk ke dalam gerbong. Jumlah penumpang cukup banyak sehingga banyak yang berdiri, termasuk saya. Penumpang “ khusus” ini cukup menarik perhatian saya.

Seorang pria, pertengahan 20 tahun usianya, masih muda. Raut mukanya cukup ceria dan bersahabat. Yang membedakan adalah pria muda ini duduk di kursi roda. Itulah sebabnya saya menyebutnya penumpang “ khusus”.

Saat kereta berhenti, seorang petugas menyiapkan selembar kayu yang diletakkan tepat di antara lantai stasiun dan kereta sehingga kursi roda bisa memasuki gerbong. Jangan heran, ini sudah “ tradisi” dan memang salah satu pelayanan manusiawi dari pihak kereta api di Jepang. Tak lama kemudian pria ini masuk ke dalam gerbong. Ucapan “ arigatou gozaimasu” terimakasih diucapkan oleh pria tersebut. Penumpang lain juga terlihat memaklumi kondisi dan memberikan ruangan cukup untuk pria dan kursi rodanya.

Pembaca, melihat kejadian ini, tiba-tiba saya teringat satu perkataan Pak Andrie Wongso, Motivator no 1. di Indonesia. Seminar Luar biasa “ Arsitek Nasib” oleh Pak Andrie Wongso di Tokyo pada tanggal 17 April 2016 masih terekam dengan baik dalam ingatan saya.
“ Dimulai Dari Diri Kita Sendiri”

Benar sekali perkataan Pak Andrie Wongso. Sejatinya, dimulai dari diri kita sendiri. Begitu juga pria muda ini. Walaupun kondisi tak sama dengan yang lainnya tetapi jelas terlihat bahwa pria muda ini masih punya semangat, dan mampu menerima kondisi dirinya. Pria muda ini ternyata sama tujuannya dengan saya sehingga sepanjang perjalanan saya bisa mengamatinya secara diam-diam.

Dalam perjalanan, tak terlihat ada rasa minder dari pemuda ini. Layaknya orang biasa, pancaran wajahnya terlihat penuh semangat dan sepertinya akan berangkat kuliah. Lihat! Dia pun mampu melakukan hal yang sama dengan orang lain normal lainnya. Kondisi tubuhnya tak menghalanginya untuk meraih kesempatan dan masa depan yang baik.

Lagi-lagi saya menghela nafas. “ Benar juga pak Andrie Wongso”. Memang perkataan orang yang sudah mengalami banyak rintangan hidup sangatlah berbeda dengan orang yang hanya sekadar teori belaka.

“Sikap Mental dan Cara Berpikir Kita Sangat Menentukan KUALITAS NASIB Kita”
Pria ini memilih untuk “ fight” dan mengabaikan kekurangannya yang tak mampu berjalan kaki layaknya orang normal. Mentalnya terlihat cukup kuat dan optimis jelas terpancar dari raut wajahnya. Saya cukup yakin bahwa pria muda ini akan mampu meraih masa depan yang baik karena sikap mental yang kuat terlihat dengan jelas, mulai dari mampu berkomunikasi dengan sekelilingnya dan tidak minder. Pria muda sudah mampu mengatasi kelemahannya dan itu modal kuat baginya untuk menatap masa depan yang gemilang.

Salam luar biasa,
Hani Yamashita - Jepang
(Kontributor)


Ps: Telah di muat di Andrie Wongso.com, 24 April 2016
http://www.andriewongso.com/dimulai-dari-diri-kita-sendiri/

Semangat Berbagi Akan Melipatgandakan Kebahagiaan

Semangat Berbagi Akan Melipatgandakan Kebahagiaan

sharing-is-caring

Sebut saja namanya, Hashimoto-san. Sosok yang menarik dan penuh semangat. Pria berusia lanjut yang energik dan selalu berpikiran positif. Pensiunan karyawan sebuah perusahaan yang cukup ternama di negara Jepang. Kehidupannya cukup materi dan tak kurang sesuatu apapun. Hidupnya terlihat bahagia. 

Hari ini mendadak saya berjumpa dengan beliau di toko tempat saya bekerja. Lebih dari 2 minggu tak melihatnya. Memang beliau biasa suka berkunjung ke toko, kadang membeli sesuatu, borong sana sini sesuka hati. Kadang sekadar mampir, menyapa, dan mengobrol saja. Sosok yang bikin "rame" suasana.

"Sashiburi! Genki desu ka?"  sapaku dengan nada riang. "Lama tak jumpa. Apa kabar?"
Hashimoto-san seperti biasa menjawab, "Genki da yo..." Sehat dan baik.
Usianya memang tak muda lagi, kisaran 70 tahun ke atas. Tetapi yang mengherankan adalah semangatnya yang masih rajin bekerja. Jangan heran, di Jepang memang ada juga manula yang bekerja sesudah pensiun. Ada 2 kemungkinan: memang perlu uang karena uang pensiunan tak cukup, ada juga yang memang tidak bisa "diam" alias tidak mau menganggur tanpa pekerjaan.
Kebetulan Hashimoto-san termasuk tipe ke-2, manusia yang tidak bisa "diam" alias tidak mau menganggur. Menarik cara berpikirnya.

Saya masih ingat dengan jelas kejadiannya. Dua tahun yang lalu, saat toko senggang tanpa pengunjung, saya bertanya, "Kenapa Pak Hashimoto masih bekerja juga, toh sudah masuk masa pensiun dan bukankah lebih baik momong cucu saja?" candaku dengan nada ingin tahu.
"Kalau otak tidak diasah, badan tidak bekerja maka aku akan lebih cepat penyakitan. Sakit-sakitan dan merepotkan keluargaku. Bahkan lebih cepat menghadap 'Kamisama' Tuhan alias meninggal dunia," jawabnya dengan tanpa tedeng aling-aling. Berbicara sambil tersenyum penuh semangat.
Jangan terkejut. Orang Jepang sama dengan orang dari negara lain juga. Kalau sudah akrab, biasa juga tidak banyak basa basi. Omong apa adanya.

"Aku ini sudah tua, pensiunan tapi aku masih bersemangat untuk berbagi dengan sesamaku. Masih bisa digunakan otakku yang tua ini, pengalaman juga bagus. Jadi sayang kalau hanya disimpan di otak dan tidak dibagikan ke generasi berikutnya," lanjutnya.
Mendengar jawaban beliau, saya mangut-mangut tanda mengerti. Jawaban lugas dan penuh pengertian yang mendalam tentang kehidupan. Sesorang yang sudah berpengalaman melalui terjangan kesulitan hidup.

"Dengan berbagi ilmu dan pengalaman sebenarnya sama saja artinya kita menolong diri kita sendiri. Kita akan lebih bisa menikmati hidup ini dengan lebih bahagia. Lihat saja pancaran kebahagiaan dari orang yang kita bantu, itulah yang akan melipatgandakan kebahagiaan yang kita terima," ucapnya tanpa titik koma.

Saat mendengarkan perkataan beliau memang saya hanya tersenyum saja. Memaklumi bahwa memang namanya orang tua pastilah suka memberikan petuah-petuah kehidupan. Hanya itu saja yang teringat karena memang menarik cara berpikirnya, jadi tersimpan di dalam memori.
Tak disangka 2 tahun kemudian saat saya mengikuti Seminar  Luar biasa " Arsitek Nasib" Pak Andrie Wongso pada tanggal 17 April 2016, saya bertemu lagi dengan perkataan yang sama persis diucapkan oleh Hashimoto-san. Luar biasa!

Buku Andrie Wongso yang saya beli saat mengikuti seminar, berjudul "20 Wisdom & Success" pun memuat prinsip yang sama dengan yang diucapkan oleh Hashimoto-san. Kurang lebih intinya sama!
"Dengan mau berbagi, kita sebenarnya sudah menjadi tuan bagi harta kita sendiri. Kita akan lebih bisa menikmati hidup ini dengan lebih bahagia, karena pancaran kebahagiaan dari orang yang kita bantu akan melipatgandakan kebahagiaan yang kita terima."
Luar biasa! Memang orang yang sudah kenyang dengan pengalaman hidup pastinya bisa mengatakan hal tersebut, berbagi dengan sesama. Salut saya untuk Pak Andrie Wongso, Motivator No. 1 Indonesia  dan juga Hashimoto-san. Bravo!

Salam luar biasa,
Hani Yamashita, Jepang 
(kontributor)


"Kebahagiaan Sejati" Relawan Gempa Bumi di Kumamoto, Jepang

“Kebahagiaan Sejati” Relawan Gempa Bumi di Kumamoto, Jepang

volJK1

Golden Week, berarti liburan dan berkumpul bersama keluarga. Itu pengertian umum di masyarakat Jepang. Memang saat inilah Golden Week berlangsung di Jepang. Liburan sekitar seminggu hingga 10 hari umumnya. Biasa dimulai akhir bulan April hingga 7-8 Mei, tergantung masing-masing instansi menentukan liburan. Banyak yang berlibur di dalam maupun di luar negeri. Tempat-tempat wisata umumnya penuh dan full antrian.
Ada satu berita yang menarik perhatian saya. Ternyata ada juga cara lain untuk menghabiskan liburan Golden Week. Cara yang tidak umum tetapi tergantung masing-masing individu. Sekadar mengingatkan, gempa bumi Kumamoto telah berlangsung lebih dari 2 minggu (per 14 April 2016). Ada banyak kerusakan bangunan, jalan, rumah dan juga korban jiwa yang tidak sedikit (49 orang).
earthquake-japan-1461230399
Akhir pekan lalu, kembali dibuka pendaftaran sebagai tenaga sukarelawan gempa bumi di Kumamoto. Luar biasa ! Pembukaan dilakukan pukul 9 pagi dan ternyata ada banyak masyarakat yang ingin berpartisipasi. Lebih dari 160 orang! Ada banyak warga Jepang di luar Kumamoto yang mendaftarkan diri untuk menjadi tenaga sukarelawan. Tak mudah memang menjadi seorang tenaga sukarelawan.
japan2
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya kesiapan membantu dan tidak merepotkan pihak tuan rumah, harus pandai membawa diri, tahu diri akan batas maksimal kemampuan, waspada terhadap segala kemungkinan karena masih ada gempa susulan dan masih banyak yang lain. Ingat selalu bahwa lokasi bencana ada banyak kemungkinan yang terjadi, jadi sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang lokasi yang dituju.
Menyimak berita ini, saya jadi teringat satu buah buku yang pernah saya baca baru-baru.  Buku ringan, banyak cerita pendek tetap bagus isinya untuk motivasi diri: “ 20 Wisdom & Success Andrie Wongso” karya Andrie Wongso, Motivator No. 1 di Indonesia. Dua kutipan pendek dari buku tersebut,
“Terus gunakan kesempatan, setiap saat dan setiap waktu, untuk berbuat baik. Setiap tetes kebaikan, akan mendatangkan kebaikan lainnya.”
“Asah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Dengan begitu kita telah menanam banyak buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kita pada kebahagiaan sejati.”
Luar biasa!  Pas sekali menggambarkan perbuatan para sukarelawan tersebut. Mengisi liburan Golden Week dengan membantu korban bencana alam adalah satu perbuatan mulia. Ini berarti para relawan telah menanam buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kebahagiaan sejati. Tidak setiap orang mampu melakukannya karena memang pekerjaan kotor dan kasar yang tak ada upahnya, misal membantu membersihkan reruntuhan rumah, mengangkat /membuang genting, membersihkan ruangan yang penuh longsoran lumpur, merapikan perkakas dapur, membuang sampah dan banyak lainnya. Pekerjaan yang membutuhkan fisik yang tahan banting.
Membantu sesama manusia dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mengasah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Hidup pun semakin berwarna, saling tolong menolong. Jadi jangan tunda-tunda lagi untuk berbuat kebaikan. Dan juga, jangan mengingat-ingat kebaikan yang sudah kita lakukan. Ikhlaskan semuanya!
Salam luar biasa,
Hani Yamashita - Jepang
(kontributor)
___________________________
Photo credits: Xinhua, Goabroad

“Kebahagiaan Sejati” Relawan Gempa Bumi di Kumamoto, Jepang

volJK1

Golden Week, berarti liburan dan berkumpul bersama keluarga. Itu pengertian umum di masyarakat Jepang. Memang saat inilah Golden Week berlangsung di Jepang. Liburan sekitar seminggu hingga 10 hari umumnya. Biasa dimulai akhir bulan April hingga 7-8 Mei, tergantung masing-masing instansi menentukan liburan. Banyak yang berlibur di dalam maupun di luar negeri. Tempat-tempat wisata umumnya penuh dan full antrian.
Ada satu berita yang menarik perhatian saya. Ternyata ada juga cara lain untuk menghabiskan liburan Golden Week. Cara yang tidak umum tetapi tergantung masing-masing individu. Sekadar mengingatkan, gempa bumi Kumamoto telah berlangsung lebih dari 2 minggu (per 14 April 2016). Ada banyak kerusakan bangunan, jalan, rumah dan juga korban jiwa yang tidak sedikit (49 orang).
earthquake-japan-1461230399
Akhir pekan lalu, kembali dibuka pendaftaran sebagai tenaga sukarelawan gempa bumi di Kumamoto. Luar biasa ! Pembukaan dilakukan pukul 9 pagi dan ternyata ada banyak masyarakat yang ingin berpartisipasi. Lebih dari 160 orang! Ada banyak warga Jepang di luar Kumamoto yang mendaftarkan diri untuk menjadi tenaga sukarelawan. Tak mudah memang menjadi seorang tenaga sukarelawan.
japan2
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya kesiapan membantu dan tidak merepotkan pihak tuan rumah, harus pandai membawa diri, tahu diri akan batas maksimal kemampuan, waspada terhadap segala kemungkinan karena masih ada gempa susulan dan masih banyak yang lain. Ingat selalu bahwa lokasi bencana ada banyak kemungkinan yang terjadi, jadi sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang lokasi yang dituju.
Menyimak berita ini, saya jadi teringat satu buah buku yang pernah saya baca baru-baru.  Buku ringan, banyak cerita pendek tetap bagus isinya untuk motivasi diri: “ 20 Wisdom & Success Andrie Wongso” karya Andrie Wongso, Motivator No. 1 di Indonesia. Dua kutipan pendek dari buku tersebut,
“Terus gunakan kesempatan, setiap saat dan setiap waktu, untuk berbuat baik. Setiap tetes kebaikan, akan mendatangkan kebaikan lainnya.”
“Asah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Dengan begitu kita telah menanam banyak buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kita pada kebahagiaan sejati.”
Luar biasa!  Pas sekali menggambarkan perbuatan para sukarelawan tersebut. Mengisi liburan Golden Week dengan membantu korban bencana alam adalah satu perbuatan mulia. Ini berarti para relawan telah menanam buah cinta yang buahnya kelak akan membawa kebahagiaan sejati. Tidak setiap orang mampu melakukannya karena memang pekerjaan kotor dan kasar yang tak ada upahnya, misal membantu membersihkan reruntuhan rumah, mengangkat /membuang genting, membersihkan ruangan yang penuh longsoran lumpur, merapikan perkakas dapur, membuang sampah dan banyak lainnya. Pekerjaan yang membutuhkan fisik yang tahan banting.
Membantu sesama manusia dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Mengasah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Hidup pun semakin berwarna, saling tolong menolong. Jadi jangan tunda-tunda lagi untuk berbuat kebaikan. Dan juga, jangan mengingat-ingat kebaikan yang sudah kita lakukan. Ikhlaskan semuanya!
Salam luar biasa,
Hani Yamashita - Jepang
(kontributor)
___________________________
Photo credits: Xinhua, Goabroad


Ps: Telah di muat di Andrie Wongso.com, 3 Mei 2016
http://www.andriewongso.com/kebahagiaan-sejati-relawan-gempa-bumi-di-kumamoto-jepang/

2016年3月8日火曜日

Pencarian Korban Hilang Setelah 5 Tahun Bencana Gempa dan Tsunami Jepang

5 tahun sudah bencana nasional gempa bumi dan tsunami di Jepang terjadi, tepatnya  pada tanggal 11 Maret 2011. Hari kelabu bagi bangsa Jepang. Bencana alam gempa bumi dan tsunami yang dahsyat, 9 skala richter. Menurut catatatan terakhir Februari 2016, korban jiwa 15. 894 orang dan korban hilang sebanyak 2558 orang. Jumlah korban hilang inilah yang selalu mengundang banyak tanda tanya  dalam pikiran saya. 

 " Bagaimana dengan korban hilang ? Apakah tetap dicari ? Dibiarkan termakan waktu ? Dibiarkan hilang begitu saja, toh sudah lewat 5 tahun juga. Tak akan ada yang menyalahkan apabila tak di cari juga. Keluarga korban pun tak akan bisa melakukan hal apapun juga, dan lain sebagainya. 5 tahun kejadian adalah waktu yang cukup lama." Ini sekedar pemikiran saya saja, pikiran orang awam. Akhirnya terjawab juga penasaran saya.

 Sebuah artikel yang "mencerahkan" pemikiran saya yang sudah terlanjur banyak prasangka negatif. Artikel per tanggal 7 Maret 2016, dari surat kabar " Sports Houchi" memuat tajuk berita mengenai pencarian korban hilang 3.11 setelah 5 tahun. ( sumber : Disini ) 

Pencarian korban hilang bencana alam gempa bumi 3.11  dari 3 perfektur ( Miyagi, Iwate dan Fukushima ) sebanyak 2558 orang tetap dilakukan walaupun telah 5 tahun berlalu. Pencarian dilakukan secara rutin oleh kapal Patroli Japan Coast Guard - wilayah Perfektur Miyagi  PL-06 dibawah kendali " Kurikoma".

 Menurut penuturan kepala pimpinan " Kurikoma", Terakado-san ( 46 tahun ). Jumlah petugas sebanyak 7 orang. Kegiatan pencarian korban hilang adalah kewajiban yang dilakukan. Pencarian rutin dilakukan sejak kejadian bencana hingga bulan Februari 2016,  terhitung telah dilakukan sebanyak 1253 kali . Ini hanya penghitungan pencarian di kedalaman lautan yang luas. Tak terhitung untuk pencarian di daratan. Pencarian korban hanya mampu dilakukan 40 meter kedalaman laut karena di atas 40 meter sudah sangat sulit dilakukan pencarian korban.  

Membaca hingga di alinea ke-3, terbersit rasa kagum. Memang sudah sepantasnya dilakukan pencarian korban hilang walaupun sudah lewat 5 tahun. Bagaimanapun keluarga korban pasti tetap ingin memperoleh kepastian walaupun hanya ditemukan jejak-jejak belaka, katakanlah yang terburuk hanya tersisa tulang belulang. Toh masih bisa dilakukan identifikasi jenazah.  

" Kami menyadari adalah sulit menemukan jejak korban hilang apalagi telah ada banyak perubahan lokasi sejak tahun kejadian 2011 hingga saat ini 2016. Hal yang mustahil, tetapi ternyata tahun 2014, kami berhasil menemukan 1 korban hilang yang telah meninggal dunia", tutur Terakado-san.

 " Saat berita penemuan korban hilang diumumkan, pihak keluarga datang sembari membawa foto korban. Berulang kali mengucapkan terimakasih dan jelas terpancar rasa kesedihan sekaligus perasaan lega bahwa salah satu anggota keluarganya telah ditemukan. Inilah yang teringat selalu dalam benak saya, sulit dihilangkan dari ingatan ekspresi keluarga korban".  

Selesai membaca artikel pendek ini, kelegaan memenuhi pikiran saya. Ternyata dedikasi terhadap tugas kemanusiaan masih begitu " kental" bukan sekedar lips service belaka. Kalau hanya 1-2 kali dilakukan pencarian, tentu tak mungkin, karena terbukti sudah dillakukan 1253 kali. Sejujurnya, Saya angkat topi untuk dedikasi personel  Japan Coast Guard " Kurikoma". Luar biasa ! Salah satu hal yang membanggakan dari petugas negara Jepang, melayani kepentingan rakyat Jepang. Pelayan bagi rakyatnya ! Memang pantas diangkat sebagai tajuk berita !    

2016.03.07 Hani Yamashita    




Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/rycnomama/pencarian-korban-hilang-setelah-5-tahun-bencana-gempa-dan-tsunami-jepang_56de1beaeaafbdcf098b4573

2014年7月1日火曜日

Bebas Visa = Pelonggaran Pengurusan Visa Ke Jepang ?


Sejak kemarin malam mulai banyak beredar kabar mengenai bebas visa ke Jepang. Berbagai mass media menuliskan bebas visa. Sangat menyenangkan tentunya. Salah satu judul dari artikel yang menarik perhatian saya adalah " Jepang Umumkan Bebas Visa"
http://news.detik.com/read/2014/06/17/173251/2610838/10/jepang-umumkan-bebas-visa-bagi-wni

Tetapi setelah saya baca, ada sedikit hal yang menganjal. Tak masuk ke logika. Sepertinya bukan sepenuhnya bebas visa, lebih pantas di sebut pelonggaran pengurusan visa. Sepengetahuan saya, bebas visa itu berarti benar bebas visa tanpa perlu melaporkan terlebih dahulu ke kedubes yang bersangkutan atau Konjen.



Sumber: http://news.detik.com/read/2014/06/17/173251/2610838/10/jepang-umumkan-bebas-visa-bagi-wni



Saya kutip pernyataan Takeyama Kenichi, Direktur Penerangan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar jepang di jakarta, Indonesia, per tanggal 17 Juni 2014  ( sumber: Halo Jepang)
http://www.halojepang.com/kebijakankerjasama/7902-pelonggaranvisa

" Banyak yang salah paham, tepatnya adalah pelonggaran pengurusan visa bukan pembebasan visa, dan masih butuh waktu untuk persiapan pemberlakuannya, karena melibatkan berbagai instansi, tidak hanya Kementrian Luar negeri, tapi juga Imigrasi, dan lainnya".

Setelah bertanya lebih lanjut ke pihak KBRI Tokyo, barulah semakin terang benderang. Proses pelonggaran pengurusan visa memang membutuhkan proses dan tentunya satu kemajuan yang patut di apresiasi.

Pelonggaran pengurusan visa bagi warganegara Indonesia pemegang E-paspor/ paspor Elektronik Indonesia bukan pemegang paspor biasa. Ini yang harus di garis bawahi. E- Paspor  atau Paspor elektronik ini masih terbatas pengeluarannya di setiap KANIM ( Kantor Imigrasi). Hanya KANIM Jakarta, Batam dan Surabaya yang telah mampu mengeluarkan E-paspor/ paspor Elektronik. Sedangkan untuk luarnegeri, hanya 2 KBRI yang mampu yaitu Singapura dan Malaysia.

Setelah mendapatkan E-paspor/ paspor Elektronik terlebih dahulu harus melaporkan paspornya ke kedutaan besar Jepang atau Konsulat Jenderal Jepang di seluruh Indonesia. Ada 4 yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Makasar. E-paspor/ Elektronik Paspor ini akan di catat, apakah memenuhi syarat atau tidak . Setelah dianggap memenuhi syarat, barulah dapat mengunjungi Jepang tanpa mengurus visa, dengan catatan durasi kunjungan di bawah 15 hari. Kurang lebih begitulah proses yang harus dijalani. Intinya, masih sama pengajuannya.

Waktu pun belum pasti karena baik pihak Indonesia maupun Jepang masih belum siap karena melibatkan banyak pihak dan banyak persiapannya. Hal yang bisa di maklumi tentunya, diharapkan paling cepat akhir tahun 2014.

Satu hal lagi, bagi pemegang E-paspor/ Elektronik paspor yang sudah memenuhi syarat dan akan berkunjung ke Jepang lebih dari 15 hari juga harus mengikuti prosedur biasauntuk mendapatkan visa dengan mengajukan permohonan aplikasi visa di Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal Jepang di Indonesia.

Bagaimana dengan pemegang paspor biasa ? sayang sekali, belum ada fasilitas seperti halnya E-paspor/ Elektronik paspor, masih harus mengikuti prosedur pengajuan visa seperti biasa hanya saja kalau jumlah banyak dan ditangani oleh pihak agen tour akan ada kemudahan mendapatkan visa. Aplikasi persyaratan mendapatkan visa akan lebih di permudah.

Tujuan utama pelonggaran pengurusan visa memang mempromosikan Jepang sebagai negara yang berorientasikan pariwisata, target 20 juta turis. Target yang cukup tinggi. Jadi memang yang diharapkan Jepang adalah kenaikan jumlah turis yang berkunjung ke Jepang karena sebelumnya ada banyak calon turis yang ingin berkunjung ke Jepang sering "terbentur" masalah visa.

Semoga kebijaksanaan ini juga di ikuti dengan penghapusan pembayaran VOA ( Visa On Arrival) bagi warganegara Jepang yang berkunjung ke Indonesia. Ada banyak warganegara Jepang yang rutin berkunjung ke Indonesia, ditambah lagi banyak turis Jepang yang begitu tergila-gila akan Bali. Hubungan yang seimbang, Jepang memperlonggar pengurusan visa demikian juga Indonesia menghapus VOA. Indonesia pun akan semakin banyak menerima turis Jepang yang berkunjung apabila VOA di hapuskan.

Akhir kata, semoga kebijaksanaan Jepang dalam hal pelonggaran pengurusan visa dimanfaatkan dengan bijaksana. Bagaimanapun kepercayaan itu mahal, jangan sampai justru bertambah pelanggaran pengunjung " illegal" ke Jepang, melebihi batas waktu yang ditentukan. Tentunya semakin banyak turis dari Indonesia pun akan semakin menggembirakan kami yang tinggal di Jepang, mempermudah bertemu teman dan sanak saudara. Berbeda kondisi kalau lebih banyak terjadi pelanggaran.

Satu pepatah terkenal, " Nila setitik rusak susu sebelangga", satu kesalahan yang kecil bisa merusak segalanya. Yang berbuat hanya sekelompok kecil, " illegal" yang menyalahgunakan kebijaksanaan baru ini, tetapi yang terkena justru kelompok besarnya yang sudah mengikuti aturan. Bangsa Indonesia, bangsa yang bijak tentunya paham cara menjaga kepercayaan dari negara Jepang. Buktikan !

" Selamat Datang ke Jepang ! ".


Salam,
Hani Yamashita



Ps: Telah dimuat di Kompasiana, 18 Juni 2014,
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/06/18/bebas-visa-pelonggaran-pengurusan-visa-ke-jepang--662839.html












Fans Jepang Memunguti Sampah Seusai Pertandingan World Cup Brazil

Hari minggu, 15 Juni 2014, pastinya hari kelabu bagi team sepakbola Jepang yang menyerah kalah dalam pertandingan sepak bola akbar World Cup. Skor terakhir 2-1 untuk pantai Gading. Hingar bingar pendukung team soccer Jepang meriah di pertunjukkan di seantero Jepang. Memang sepakbola cukup menempati peringkat yang lumayan di negara doraemon ini.

Kekalahan team Jepang ternyata tetap direspon secara sportif oleh para pendukung, fans Jepang di arena Pernambuco, Recife, Brazil. Seorang wartawan asing mengabadikan dengan apik tingkah laku para fans Jepang dan menuliskan di sebuah mass media.

Menarik bagi saya sehingga saya tuangkan dalam bentuk artikel. Para fans Jepang seusai menyaksikan pertandingan Jepang vs Pantai Gading justru merespon dengan baik team Jepang yang menghormat ke arah tribun penonton. Tak ada cercaan karena kekalahan team kesayangannya. Justru saling menghormat khas Jepang. Itu baru satu hal yang menarik bagi saya yang cukup lama tinggal di Jepang. Sikap sportivitas yang dijunjung tinggi baik team soccer maupun pendukung fans Jepang, jauh dari sikap anarkis. Tak ada acara pukul antar pendukung, fans lawan, apalagi merusak properti milik umum.

Berikutnya, para pendukung team Jepang seusai pertandingan melakukan hal yang mencengangkan bagi orang asing, bukan saya yang sudah lama tinggal di negara doraemon. Beberapa kelompok orang mengeluarkan kantong plastik berukuran besar warna biru muda untuk memunguti sampah yang berserakan. Para pendukung team Jepang tak sadar bahwa tingkah lakunya yang memunguti sampah menarik perhatian wartawan asing yang sedang bertugas meliput acara Jepang vs Pantai Gading.

Memungut sampah seusai acara adalah hal yang lumrah di Jepang, itulah sebabnya fans Jepang kompak melakukannya. Kompak menjaga kebersihan. Inilah yang saya acungi jempol, luar biasa ! walaupun saya telah cukup lama tinggal di Jepang pun sering kali masih "keteteran" dengan tingkah laku spontan warga Jepang. Jangan tanya susahnya adaptasi saat pertama kali tiba di Jepang untuk hal urusan sampah !


Permalink gambar yang terpasang
Sumber: https://twitter.com/WorIdCupProbs/status/478250315657920513/photo/1



Masyarakat Jepang sudah sejak kecil " brainwashing" diajarkan tentang kebersihan sehingga sejak dari kecil pun anak-anak sudah di perkenalkan buang sampah harus di tempatnya ! Pernah saya menyaksikan sesuatu yang bagi saya sangat membekas di benak. Saat itu ada seorang ibu dan anak berusia 3 -4 tahun. Kebetulan sang buah hati sedang pilek berat. Ibu tersebut membersihkan ingusnya. Saya pikir lumrah karena saya pun demikian terhadap anak-anak. Yang bikin shock, mengeluarkan saputangan dan membantu anak buang ingus di atas saputangan. Selesai membersihkan ingus yang penuh lelehan yang begitu aduhai, sang ibu memasukkan saputangan ke dalam sakunya. Saya yakin cukup basah kuyup karena ingusnya banyak sekali ! Spontan saya tanya ke teman, seorang ibu Jepang, " Kenapa tidak menggunakan tissue dan langsung buang itu ingus? " Kenapa gunakan saputangan? Kotor dan pastinya tdk mudah di bersihkan. Itu namanya menambah pekerjaan di rumah !"

Tahukah jawaban dari teman orang Jepang? Pertama, saputangan itu halus untuk hidung anak yang pilek. Tissue bisa mengikis jaringan kulit di bawah hidung sehingga lecet karena itu sang ibu sudah bener menggunakan saputangan yang lembut. Pilek berat pastinya berulangkali buang ingus dalam sehari. Kedua, saputangan penuh ingus memang harus dimasukkan saku walaupun kotor. Demikian juga dengan tissue kotor pun tak boleh dibuang sembarangan, kalau tidak ada tong sampah ya masukkan saja ke dalam tas, saku atau bawa kantong plastik setiap saat pergi. Tunggu sampai ketemu tong sampah baru buang ! Glek, saya langsung terdiam.

Demikian sekilas gambaran kebiasaan bersih orang Jepang. Mereka sudah terbiasa, spontanitas membersihkan sampah seusai acara apapun. Biasa bagi orang Jepang, mengagumkan bagi masyarakat dunia, salah satunya wartawan Brooks Perck. Itulah salah satu hal yang menarik dari komunitas masyarakat Jepang, buang sampah dan memungut sampah seusai acara. Sangat bagus untuk diterapkan, menjaga lingkungan supaya tetap bersih dari sampah !

salam,
Hani Yamashita

Sumber: http://sports.yahoo.com/blogs/soccer-dirty-tackle/japanese-fans-clean-up-their-section-after-world-cup-match-against-ivory-coast-015533399.html?soc_src=mediacontentstory


Ps: Telah dimuat di Kompasiana, 16 Juni 2014,
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/06/16/fans-jepang-memunguti-sampah-seusai-pertandingan-world-cup-brazil-662343.html

2014年6月16日月曜日

Acara " Little Tokyo Ennichisai Blok M 2014 " Terakhir kali di Selenggarakan karena Tak Mampu Bayar Suap !

Judul yang tendensius bukan ? Sama halnya dengan saya saat membaca sebuah artikel dan sebuah pengakuan menyedihkan dari seorang ketua pelaksana acara " Little Tokyo Ennichisai blok M 2014", Daisei Takeya.

Acara ini sebenarnya merupakan acara perkenalan kebudayaan Jepang dan sudah diadakan sejak tahun 2010. Festival tahunan dan konon pengunjung tahun ini membludak hingga 200. 000. Jumlah yang sangat menggiurkan tentunya.

Sebuah artikel berjudul " Acara Little Tokyo Ennichisai Blok M Dihentikan dan Tidak ada Lagi", per tanggal 8 Juni 2014
( Silakan klik, http://todaynippon.com/event/3503).

Semakin dibaca, semakin heran benak pikiranku. Lho, masih ada ya kejadian suap, pungli, sogokan, uang haram, uang panas? Sebelumnya saya cukup yakin bahwa kondisi Indonesia semakin membaik terutama untuk hal-hal pungli dan suap sejak pak Jokowi dan Pak Ahok menjabat sebagai Guberner dan Wakil Gubernur di ibukota negara Indonesia. Apakah hal yang terjadi pada " Acara Little Tokyo Ennichisai Blok M 2014" tidak termasuk kategori pungli dan suap ya ? Mungkinkah disebut sumbangan suka rela ? Tetapi seandainya sumbangan sukarela, kenapa penyumbangnya berkeluh kesah merasa dimanfaatkan? Pastinya sesuatu yang memberatkan dan layak dikategorikan sebagai pungli, suap!



sumber: http://todaynippon.com/event/3503

Silakan baca curahan hati dari Daisei Takeya, ketua pelaksana acara ( sumber facebook Daisei Takeya dan telah diterjemahkan).

Satu minggu telah berlalu dan perayaan Ennichisai yang ke-5 pun telah berakhir. Saat melihat video tentang Ennichisai di Youtube, sepertinya kami para panitia dan volunteer kembali berhasil membuat acara yang sukses. Saya ingin berterima kasih kepada orang-orang yang sudah mendukung dan bekerja sama dari awal. Meski banyak fitnah ataupun masalah, kita tetap bertahan sampai akhir, dan telah menjadikan acara ini sebagai acara yang diakui oleh banyak orang.

‘Sebenarnya saya memiliki niat baik dan bermaksud untuk memberikan konstribusi kepada Blok M, tetapi saya sangat dipersulit dan dimintai banyak sekali uang suap. Hanya beberapa hari sebelum acara, saya dimintai uang pelicin, dan jika tidak membayar maka acara tidak bisa diadakan. Karena merupakan ‘pemilihan waktu’ yang sangat sulit dan tidak mungkin bagi saya untuk membatalkan acara ini, saya memohon sangat agar acara ini tetap diadakan, dan membayar sejumlah uang yang diminta. “Orang dari kedudukan yang tinggi, tidak mengambil keputusan yang baik”, sepertinya saya telah dimanfaatkan oleh orang seperti ini. Sebenarnya, dengan semua jerih payah volunteer, saya berencana untuk memberikannya kepada Blok M dan lingkungan sekitarnya, tetapi sangat disayangkan, karena harus membayar uang pelicin tersebut saya tidak bisa mewujudkannya. Orang yang rela berusaha demi orang lain, dengan orang yang hanya memikirkan uang saja, sepertinya memang tidak bisa disatukan.’


Saya merasa, saya harus meminta maaf kepada ratusan ribu orang yang bergembira akan kehadiran Ennichisai. Persahabatan antara Indonesia dan Jepang, kegembiraan perayaan Jepang setahun sekali yang dihadiahkan oleh orang Jepang untuk Indonesia. Dengan adanya beberapa orang berniat jahat seperti ini, terwujudnya Ennichisai pun menjadi sulit. Jangan bersedih, karena mungkin di lain waktu akan ada sesuatu yang baru, tetapi saya terpaksa untuk menghentikan Ennichisai di Little Tokyo.


Alinea kedua dari curahan hati Daisei Takeya sungguh mengejutkanku. Terjemahan dalam bahasa Indonesia saja sudah bikin trenyuh apalagi kalau membaca tulisan aselinya dalam berbahasa Jepang. Akh, ternyata masih ada juga di Jakarta " Raja kecil" yang suka memalak, memanfaatkan kedudukan/kekuasaan demi uang. " Raja kecil" ini juga yang bikin rusak negara Indonesia. Saya tak menyebut koruptor melainkan cukup " Raja kecil", lebih halus istilahnya. " Raja kecil" ini biasanya ada banyak anak buah dan punya daerah kekuasaan tersendiri, dan pastinya uang di gunakan untuk memperkaya diri sendiri. 


Alangkah baiknya " Raja kecil" di tegur oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selaku Plt Gubernur DKI. Pihak penyelenggara acara juga sebaiknya melaporkan hal ini kepada pak Ahok agar ditindak lanjuti. Alangkah memalukan apabila Indonesia terus menerus hancur namanya hanya karena ulah para pemalak. Oknum yang memanfaatkan kekuasaan dengan cara sewenang-wenang. Bagaimana pun acara Little Tokyo ini memberikan banyak kegembiraan bagi warga sekitarnya. Sama halnya dengan saya yang tinggal di Jepang pun suka sekali mengikuti Indonesia Festival, Thai festival dan ada banyak acara-acara sejenisnya. 


Sepanjang yang saya ketahui di Jepang, Indonesia Festival pun termasuk acara yang "baru" dan rutin diselenggarakan tiap tahun. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang. Lihat sama tujuannya dengan Little Tokyo Ennichisai Blok M, memperkenalkan kebudayaan. Tak seharusnya di palak hingga membuat ketua pelaksana Daisei Takeya patah semangat karena saking tak sanggupnya membayar suap, pungli, atau palak ! Saya perkirakan pasti jumlah besaran uang pungli luarbiasa besar dan bukan hanya satu kali saja terjadi. 


Dimana hati nurani " Raja Kecil", seandainya di Jepang pun sama ada kejadian seperti ini ? Misalnya, penyelenggara ketua pelaksana Indonesia Festival di palak ? disuruh bayar suap secara gila-gilaan hingga harus mengiba-iba bagaikan pengemis?  Sangat menyedihkan ternyata Indonesia masih ada juga oknum yang berkelakuan demikian. 


Artikel pendek ini hanya sekedar catatan kecil bagi saya, ternyata oh ternyata Indonesia masih juga tak berubah, Ada oknum-oknum yang hobi memalak, pungli dan itu semua dilakukan demi uang. Semoga masalah Little Tokyo Ennichisai Blok M terselesaikan dengan baik dan tahun depan masih bisa di selenggarakan tanpa ada pungli dan suap ! Bagaimanapun saya juga ingin menyaksikan secara langsung Little Tokyo Ennichisai Blok M 2015 saat pulkam nanti. 


salam, 

Hani Yamashita

PS : Telah ditayangkan di Kompasiana per tgl 9 Juni 2014

http://metro.kompasiana.com/2014/06/09/acara-little-tokyo-ennichisai-blok-m-2014-terakhir-kali-di-selenggarakan-karena-tak-mampu-bayar-suap--660830.html






2014年6月9日月曜日

Anak Berkebutuhan Khusus pun Berharga di Jepang

Kokiers, lama tak menulis dan juga tak menyapa. Keinginan menulis hanya menggantung di benak kepala saja. Ternyata menulis tetap mengasikkan bagi saya.

Dalam satu perjalanan pulang ada satu hal pengalaman yang cukup menarik untuk sharing bersama kokiers. Saat itu saya menggunakan fasilitas kereta api jarak jauh untuk kembali ke kampung halaman di Saitama. Saya seorang diri. Sebuah pemandangan susah di lupakan, terpatri di benak.

Saat mendekati peron kereta api di stasiun Ikebukuro, Tokyo. Serombongan anak-anak muda dan juga orang tua berkumpul. Sesuatu hal yang lumrah. Mulanya saya tak perhatikan dengan seksama. Semakin dekat, saya amati, ada sesuatu hal yang menarik perhatianku. Masih tersisa 30 menit lagi  sehingga pemandangan yang berada di depanku juga yang jadi obyek perhatian.

Rombongan anak muda ada 7 orang, berusia 13 tahun hingga 16 tahun, semuanya anak laki-laki. Sedangkan rombongan orang tua, berjumlah 5 orang pula. Masing-masing orang tua mendampingi  anak 1-2 anak. Dalam hitungan menit, aku mulai paham bahwa ketujuh anak laki-laki, besar kemungkinan penderita " down syndrome" atau mungkin juga " Autisme". Saya sendiri kurang paham perbedaannya.

Tiba-tiba salah seorang anak berteriak keras-keras. Meledak tangisannya. Tak mudah para pembimbing menghiburnya. Entah apa penyebabnya. Belum selesai, menyusul anak laki yang lain juga berguman seorang diri. Hmm, saya berusaha meredam rasa terkejut. Hanya terdiam menyaksikannya. Kalau orang Jawa bilang, " Ojo gumunan", jangan mudah kaget, takjub. Pastinya tak mudah merawat dan menjaga anak dengan keperluan "khusus" seperti ini.

Ternyata saya satu gerbong bersama rombongan anak-anak muda ini. Tepat di seberang saya. Jadilah saya cermati saja segala gerak gerik mereka. Para pembimbing sesekali berucap, " maaf, mengganggu ya. Harap dimaklumi". Saya hanya mengangguk dan menjawab, tak apa. Toh, saya juga bisa memaklumi sukarnya mengawasi anak-anak demikian.

Perjalanan lebih kurang satu jam ternyata diisi penuh "kemeriahan". Saya tak menuliskan, berisik, ribut atau penuh teriakan. Sejak saya memasuki gerbong kereta api, saya sudah paham bahwa perjalanan satu jam adalah penuh dengan kemeriahan anak-anak muda ini. Tepat tebakanku.

Ketujuh anak bergantian saling berguman seorang diri. Berbicara seorang diri. Terkadang mengetuk kaca jendela. Berdiri dan berteriak. Tertawa. Sesekali menangis, meraung tak hentinya. Kuhabiskan bento di atas kereta api. Suara yang begitu " meriah" tak menganggu konsentrasiku. Kubiarkan saja. Selesai menikmati bento, kunikmati pemandangan luar. Tak menarik lagi ! Mataku terpejam, istirahat sebentar.

Akhirnya kuhabiskan waktuku di dalam kereta untuk menulis artikel ini. Jadilah satu artikel khusus kokiers. Yang saya kagum sekaligus salut melihat cara memperlakukan anak-anak berkebutuhan "khusus" ini dengan cara manusiawi dan sekaligus tegas. Bukan memaki. Berulangkali pembimbing yang paling tua, beranjak dari kursi untuk menenangkan anak asuhnya. Nada suara tegas dan anak tersebut mengikuti perintahnya. Tetapi hanya sesaat, bergantian lagi dengan yang lainnya.

Tiba juga kereta api di pemberhentian terakhir. Ternyata tujuan pun sama. Akh, anak-anak muda ini semoga bahagia selalu. Walaupun berkebutuhan khusus tetapi pastinya ada harapan untuk meraih cita-cita. Sekecil apapun yang bisa di hasilkannya, itu juga patut dibanggakan.

Salam,
Hani Yamashita

Ps: Telah di muat di KoKi per tanggal 24 Mei 2014
http://kolomkita.viva.co.id/baca/artikel/33/4400/anak_berkebutuhan_khusus_pun_berharga_di_jepang


2014年5月24日土曜日

Vending Machine Paspor di KBRI Tokyo

" Birokrasi", satu kata sudah cukup membuat mual perut. Mengurus administrasi identik dengan segala hal yang berimage tak baik. Apalagi kalau soal pengurusan KTP, paspor, surat-surat yang berhubungan dengan pemerintahan. Itu image yang ada di sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk saya. Jauh hari, saya sudah malas memikirkan pengurusan perpanjangan paspor di KBRI Tokyo.

Teringat pengurusan paspor yang sebelumnya cukup " alot", walaupun akhirnya " goal" juga. Segala persyaratan yang dibutuhkan untuk perpanjangan paspor pun kupersiapkan sedetail mungkin agar tidak bolak balik lagi.

Syarat yang dibutuhkan pun lengkap sudah ! Mulai dari bukti domisili, akta lahir, akta nikah/cerai, surat keterangan kerja, bahkan foto terbaru ukuran 3x4 cmplus download formulir permohonan S.P. R.I pun saya siapkan. Silakan lihat lebih lengkapnya di website KBRI Tokyo,
http://kbritokyo.jp/layanan-publik/layanan-wni/persyaratan-permohonan-paspor-ri/

Dalam benak saya, butuh waktu 3-4 jam untuk penyelesaian semuanya, termasuk antri. sesuai rencana, tanggal 19 Mei adalah hari yang tepat untuk mengurus paspor. Bukan hari libur, dan hari cerah sesuai ramalan cuaca. Ijin untuk " terlambat" datang kerja pun sudah saya kantongi. Beres sudah ! Anak-anak pun sudah saya beritahu jauh hari rencana saya untuk mengurus paspor. Jaga-jaga kalau saya terlambat pulang.

Tepat pukul 9:50 pagi, saya tiba di stasiun Gotanda. Bergegas keluar dan berjalan kaki menuju KBRI- Tokyo. Tak jauh, jalan kaki sekitar 15 menit saja. Tiba di luar terlihat seorang resepsionis cantik sedang sibuk melayani pasangan suami isteri yang mengembalikan pin tanda berkunjung. Sembari menunggu giliran, saya amati situasi sekitar. Melihat orang berlalu lalang.

Setelah mendapatkan pin, saya di persilahkan masuk ke kantor sebelah kanan. Saatnya mengurus dokumen. Tak ada yang berubah, masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Box foto pun sama letaknya. Beberapa orang telah hadir dan sibuk mengisi formulir. Sebuah loket sebelah kiri menarik perhatianku. Seorang petugas dengan ramahnya segera berdiri dan bertanya dengan bahasa Jepang. Oh, ternyata saya salah menghampiri loket. Seharusnya, loket utama yang berada tepat di tengah ruangan. Hmm, heran juga saya ditegur dengan bahasa Jepang dan bukan bahasa Indonesia.

Sosok petugas bertubuh besar terlihat sedang sibuk menelpon. Sosok yang familiar di kalangan masyarakat Indonesia di Tokyo dan sekitarnya. Pastinya hari yang sibuk. Saya menunggu hingga beliau selesai dengan pembicaraan di telpon. Begitu selesai, tanpa sempat duduk. Beliau dengan lincah segera berjalan menuju loket depan. Tubuhnya yang besar tak mengurangi kelincahannya untuk segera merespon pengunjung yang membutuhkan informasi.

" Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu? "
" Oh, bu Hani. apa kabar?", tegurnya dengan nada ramah.

"Selamat pagi, pak Darus. Iya, pengurusan perpanjangan paspor. Sebelum habis masa berlakunya, saya segera kemari untuk mengurusnya".

Pak Darus dengan sigap menjelaskan hal-hal yang penting tentang pengisian formulir. Ada 3 formulir yang harus saya isi. Coretan pulpen hitam, menandakan saya tak perlu mengisi bagian tersebut. Pening melihatnya. Pengisian butuh waktu cukup lama karena sesekali saya harus " menyontek" dari paspor lama dan identitas diri lainnya. Kulirik jam di tangan, pengisian formulir butuh waktu 15 menit.

Setelah selesai pengisian formulir, saya segera kembali ke loket utama. Pak Darus kembali menerangkannya dengan ramah. Foto diri harus di tempel pada formulir permohonan. Hal yang mengejutkan, saat pak Darus menerangkan tentang tata cara pembayaran.

" Bu Hani, pembayaran administrasi dilakukan tersendiri ya. Dekat pintu keluar ada satu mesin pembayaran. Pencet tombol nomor 1 ya. Kalau sudah selesai, bisa kembali kemari"

Sesaat saya masih bingung. Maksudnya? Yang terima uang administrasi siapa? bukannya dahulu ada petugas yang terima uang pembayaran. Saat itu, petugas penerima sedikit kerepotan karena saya hanya ada uang "besar" 10.000 yen. Saya lupa menyiapkan uang pas. Jadilah saya menunggu cukup lama. Hari ini sudah saya persiapkan uang administrasinya dengan teliti.

Displaying DSC_3867.JPG


























Saya berjalan mengikuti petunjuk. Sebuah mesin otomatis terpampang tepat di depan. Sebuah kejutan yang menyenangkan ! layaknya membeli minuman ringan , soft drink, ternyata KBRI pun ada juga pembayaran dengan vending machine. Mungkin juga telah dilakukan beberapa tahun yang lalu, 2 tahun yang lalu. Entahlah ! Satu hal yang pasti, saya sangat mengapresiasi cara pembayaran dengan vending machine ini. Segala sesuatunya " terang benderang", apa adanya. Hal yang sangat bagus, semoga bisa di terapkan di Tanah Air. Pembayaran dengan vending machine ini sedikit banyak bisa mengatasi banyak masalah " korupsi". Bukti pembayaran tertera dengan jelas, apa adanya. Hal ini bisa mengurangi kongkalikong yang banyak terjadi saat pengurusan administasi di kantor pemerintahan. Dari segi waktu, lebih cepat, praktis tentunya.

Hal lain, vending machine ini menimbulkan rasa nyaman dan percaya bahwa uang administrasi yang saya bayarkan adalah benar-benar masuk ke kas negara dan bukan masuk ke "kantong lain". Perubahan yang bagus.  Indonesia pun mampu kalau mau berubah.

Administrasi yang bagus dan teratur, bersih, adalah salah satu ciri negara maju. Tak ada negara maju dengan administrasi yang amburadul dan " gelap gulita" penuh dengan korupsi. Majulah selalu Indonesia ! Negara lain bisa, tentunya Indonesia pun bisa ! Pelayanan yang ramah, sigap dan bersih, ternyata mampu menghapus kesan negatif saya.

Tak Terasa pengurusan perpanjangan paspor hanya butuh waktu 45 menit saja. Seandainya saya lebih sigap mengisikan lembaran formulir mungkin hanya butuh waktu kurang dari 30 menit saja. Bravo untuk KBRI Tokyo ! Saya acungkan jempol untuk pengurusan yang bagus.

Tepat 3 hari saya menerima paspor baru dan paspor lamadalam satu paket yang di kirim per pos. Tepat waktu, dan semuanya pun sudah terkomputerisasi,  tak di temukan lagi tulisan tangan di bagian paspor. Kemajuan yang pesat !

Salam,
Hani Yamashita


Ps: Telah di muat di Kompasiana
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/05/24/vending-machine-paspor-di-kbri-tokyo-657473.html

2014年2月23日日曜日

Tangisan Jepang Untuk Asada Mao

Olimpiade Sochi 2014 menyisakan banyak kisah sukses, gagal dan suka duka para atlet. Satu kisah yang paling jadi perbincangan semua adalah penampilan Asada Mao. Tak henti-hentinya masyarakat Jepang memperbincangkannya bahkan masyarakat internasional. Memang harus diakui sangat luarbiasa mental juara yang dimiliki seorang Asada Mao !

Asada Mao, 23 tahun, seorang atlet figure skating yang sangat populer di Jepang. Mao-chan, nama kesayangannya. Wajah cantik, keibuan, nyaris sempurna untuk penampilan sebagai seorang gadis muda. Penampilan yang menarik, sama menawannya dengan penampilannya saat olimpiade Soichi pada hari Jumat, 21 Februari 2014.

Mao-chan sebelumnya di perkirakan akan menjadi salah satu pemegang medali di Olimpiade Sochi untuk figure skating. Malang tak dapat di tolak. Penampilan pertama short program justru terjatuh dan meraih point yang tak cukup untuk bisa meraih medali. Dari 30 orang peserta, Mao-chan hanya menempati urutan ke-16. Sangat mengejutkan memang penampilan Mao-chan yang lain daripada yang lain !

Kesempatan berikutnya, jumat 21 Februari 2014. Mao-chan berlaga untuk free program. Berkostum biru, indah dan sangat elegan. Sebelum memulai, Mao-chan menarik nafas panjang. Mulai beraksi dan beraksi. Luarbiasa. Sungguh luarbiasa! Apa yang dilakukan sangat sempurna, berbeda sekali dengan penampilan pertama. Mao-chan sanggup melakukan seluruh variasi jumping. Hebat , luar biasa! Terbelalak semua orang yang menyaksikan ! Ada 6 variasi yang dilakukan Mao-chan dan masing-masing variasi sebanyak 8 kali. Belum ada yang bisa menyamainya.




sumber: http://www.huffingtonpost.jp/2014/02/20/mao-you-are-brilliant_n_4827513.html#slide=3450303


Saat saya menyaksikan dari layar TV, spontan berdiri dari kursi. Hebat sekali mental Mao-chan. Inilah mental juara ! Memang Mao-chan tak berhasil meraih juara, gold medal. Tetapi pada penampilan berikutnya, free program, Mao-chan meraih point tertinggi, 142, 71. Mao-chan berhasil bangkit dari ranking 16 hingga menempatkan diri ke ranking 6 ! Loncatan jauh, dari ranking 16 hingga ranking 6. Inilah yang mengagumkan.

Bangkit dari keterpurukan itulah yang luar biasa. Bukan masalah juara atau tidaknya, tapi mental dan semangat olahraga yang diperlihatkan Mao-chan itulah yang menyebabkan banyak masyarakat Jepang dan internasional mengaguminya. Salut akan perjuangannya untuk berjuang yang terbaik! Besar kemungkinan olimpiade Sochi ini adalah yang terakhir bagi Mao-chan karena faktor usia.

Usai penampilan sempurnanya, Mao-chan menangis haru dan mengucapkan terimakasih. Penonton menangis terharu melihat penampilannya yang indah. Sungguh tak terlupakan dan merupakan prestasi tersendiri bagi Mao-chan ! Inilah sejatinya juara. Benar, Mao-chan tak mendapatkan gold medal tetapi Mao-chan meraih banyak hati dan simpati semua orang. Tangisan Jepang untuk Asada Mao. Janji Mao-chan untuk berusaha yang terbaik telah dipenuhi dengan penampilan yang gemilang!

Akhir kata, juara dalam pertandingan bukan sekedar gold medal. Dan itu sudah dibuktikan oleh Mao-chan. Ternyata selain penampilan yang memukau, hal ini juga di tunjang sikapnya yang low profile. Bravo untuk Asada Mao! Arigatou, terimakasih !

Salam,
Hani Yamashita


Sumber: Mass Media Jepang

Ps: Telah dimuat di Kompasiana
http://luar-negeri.kompasiana.com/2014/02/23/tangisan-jepang-untuk-asada-mao-637178.html




2014年2月20日木曜日

Dewa Penolong Saat Badai Salju Di Jepang

Badai salju kedua di Jepang memang telah berlalu. Badai salju yang dahsyat terjadi tepat saat hari Valentine, 14 Februari. Menyebabkan banyak kerusakan, kemacetan lalu lintas dan juga korban jiwa. Data sementara, 12 korban jiwa dan lebih dari 1000 orang mengalami luka.

Dibalik bencana ternyata ada juga " dewa penolong". Salah satu yang menjadi topik perbincangan di negara Jepang saat ini adalah sebuah truk roti " Yamazaki".  Bahkan menjadi trending topic di twitter, 19.000 follower memperbincangkannya. Sebuah brand roti yang terkemuka di seantero Jepang. Pastikan setiap supermarket pasti ada roti bermerk Yamazaki. Roti yang berharga ekonomis sekitar 100 yen untuk sebuah roti. Enak dan mengenyangkan !

Saat badai salju melanda Jepang bagian timur, banyak mobil yang terjebak dalam salju. Perfektur Yamanashi mengalami badai salju yang paling parah. Bahkan kota Kofu mencapai ketinggian salju yang luarbiasa, 114 cm.
 

Permalink gambar yang terpasang


sumber: https://twitter.com/kojisan0104/status/434845198686773248/photo/1

Seorang pengemudi truk " Yamazaki" pun terjebak dalam kemacetan parah.  Tak mampu bergerak kemanapun. salju semakin menebal, ada banyak yang bernasib sama. Jalanan ini jalanan highway. Kecil kemungkinan ada kombini semacam Seven Eleven, Family Mart atau lainya, banyak pengemudi yang terpaksa diam di dalam mobil menunggu bantuan datang.

Keluar dari mobil untuk berjalan kaki adalah hal mustahil. Badai salju terlalu lebat! Tetapi menunggu di dalam mobil pun akan kelaparan. Sampai kapan akan bertahan ? Itulah dukanya saat badai salju. Kemungkinan juga bahan bakar di dalam mobil akan menipis karena terus menerus dinyalakan untuk menghangatkan badan. Tak ada pilihan yang lain.

Seorang pengemudi truk " Yamazaki" menyadari kondisi parah tersebut.  Yang dilakukan sungguh luarbiasa! Dia membuka truknya dan berteriak , " Sukina dake mottette yo! Silakan ambil roti ini sepuasnya yang kamu inginkan! ".

Orang-orang yang terjebak dalam kemacetan panjang segera mengerumuninya, mengambil roti " Yamazaki" sesuai kebutuhan perutnya. Wajah penuh berterimakasih terpancar jelas dari para pengemudi yang mendapatkan berkah roti" Yamazaki". Sungguh inilah " real Anpanman", tokoh hero dalam kartun anak-anak yang selalu menolong orang dalam kesusahan!.

Saat saya membaca berita ini, tak terasa menitikkan air mata. Hebat pengemudi truk Yamazaki ini!. Inilah sejatinya seorang manusia, menolong sesama. Itulah salah satu kisah dari badai salju di Jepang. Salah satu faktor yang mengagumkan dari negara bernama Jepang. Saat dalam kesusahan, karakter sesungguhnya seorang manusia itulah yang muncul. Egois ataukah penuh welas asih. Dan itu sudah dibuktikan oleh seorang pengemudi truk " Yamazaki".


salam,
Hani Yamashita

sumber:

http://nlab.itmedia.co.jp/nl/articles/1402/17/news088.html

Ps: Telah di tayangkan di Kompasiana, 20 Februari 2014
http://sosbud.kompasiana.com/2014/02/20/dewa-penolong-saat-badai-salju-di-jepang-




2014年2月17日月曜日

Kolam Salju 2014

Dear kokiers,

Badai salju kali ini menghampiri lagi Jepang untuk kedua kalinya. Badai salju yang pertama terjadi seminggu sebelumnya, 8 Februari 2014. Kondisi saat itu cukup parah, banyak penerbangan dalam dan luar negeri mengalami penundaan atau cancelled. Lalu lintas juga terganggu. Korban jiwa sekitar 7 orang dan 1000 orang terluka. Rata-rata korban luka karena terpleset akibat licinnya jalan, mungkin juga tertimpa runtuhan salju dari atap.

Kali ini badai salju kembali " menyapa" Jepang. Lebih parah dari badai salju yang pertama. Hujan salju mulai turun dengan cukup deras sejak tanggal 14 Februari 2014, bisa disebut " White Valentine day" di Jepang. Semua serba putih tertutup salju. Ibukota Tokyo dan wilayah sekitarnya mengalami hujan salju selama 1hari penuh, lebih dari 24 jam. Hasilnya, betul-betul menakjubkan!

Displaying DSC_2289.JPG

























sumber: dokumentasi pribadi



Di pagi hari saya langsung buka korden untuk melihat ketinggian salju sampai berapa cm. Sesaat saya shock, terdiam. Langsung tutup korden dan segera menuju pintu depan. Kokiers, saat saya membuka pintu, tumpukan salju telah mendarat dengan "manis" dihadapanku. Tak ada jalan bagiku untuk keluar dari rumah. Tertutup salju ! Langsung tertawa terbahak-bahak diriku, ambil kamera dan potret! kapan lagi ada surprise seperti ini kalau bukan hari ini. Pengalaman yang luar biasa!

Suami yang mendapat laporan dariku, tak percaya. Langsung menuju pintu depan dan shock. Menutup pintu kembali dengan wajah geli. " Benar katamu, kita terjebak dalam salju. Bakal tidak bisa keluar dari rumah. Kudu kerja keras, membuka jalan keluar. kita lewat pintu belakang saja". Langsung kujawab, " Halah sama saja, pasti buntu juga. Udah hari ini tugas kita menyekopi salju".

Suami heran aku hanya cengar cengir saja seperti tak panik. Kujawab, " Mau panik juga ngga ada gunanya. Udah kejadian juga. Toh, bukan kita saja yang mengalaminya. Yang lebih parah dari kita juga banyak. Udah beruntung juga kita masih ada rumah untuk tempat berlindung. Kita berempat juga masih sehat. Stock makanan cukup untuk 3 hari kedepan. Sekarang yang terpenting, kita harus segera menyekopi salju agar kita ada jalan buat keluar dari rumah"
.
Displaying DSC_2336.JPG

























sumber: dokumentasi pribadi.

Kokiers, Tokyo dan kota-kota disekitarnya mengalami badai yang cukup parah. Saitama yang merupakan salah satu tetangga Tokyo pun terkena imbasnya.  Beberapa wilayah Saitama terkena badai salju parah, salah satunya kota dimana saya tinggal. Ketinggian salju mencapai 80-98 cm. Walaupun begitu tetap saja rekor ketinggian salju untuk badai salju minggu ini di pegang oleh perfektur Yamanashi. Kota Kofu mengalami badai salju yang parah. Rekor tertinggi 114 cm. korban berjatuhan cukup banyak. Banyak atap rumah yang roboh karena tak kuat menahan beban salju yang mencapai puluhan cm.

Displaying DSC_2340.JPG


























sumber: Dokumentasi pribadi

Akhir kata, dibalik badai salju ada banyak hikmah yang bisa saya dapatkan. Di beri kesempatan menyaksikan "kolam salju raksasa " di depan rumah. Badai salju memberi saya kesempatan menulis artikel dan naskah buku berikutnya. Badai salju juga memberi saya kesempatan untuk merasakan hidup layaknya di Hokkaido, salah satu perfektur di Jepang yang paling dingin dan sering hujan salju. Salut saya untuk mereka! Badai salju juga memberi kesempatan kami sekeluarga untuk semakin menghargai waktu bersama keluarga. Badai salju juga mengajarkan kebersamaan karena para bapak di RT ini bergotong royong untuk membersihkan tumpukan salju di jalan. Badai salju juga memberi saya kesempatan untuk menyekopi salju sehingga menyadarkan saya bahwa sekop, benda kecil ini begitu berharga saat musim dingin. Badai salju juga mengajarkan saya bahwa kolam salju pun bisa memberi kesenangan bagi kami, bisa belajar "renang" di kolam salju. Ternyata renangnya tak mudah, tak maju-maju juga, hanya bergerak di tempat.  Terimakasih untuk semuanya ! Badai salju tetap patut di syukuri walaupun merepotkan.

Kokiers, silahkan menikmati foto indahnya salju, dan kolam salju depan rumah kami. Indah dan tak terlupakan !

salam,
Hani Yamashita

Ps: ditayangkan juga di,
http://kolomkita.viva.co.id/baca/artikel/31/4177/kolam_salju_2014